Senin, 22 Oktober 2018

‘Nomor Cantik’: Rekor Pengucap Tri Krama Adhyaksa


Oleh: Nur Rachmansyah[1]

Di tengah era globabisasi saat ini, hampir setiap orang mengikuti trend pekembangan zaman. Diantara banyak teknologi informasi yang beredar, handphone (HP) merupakan salah satu benda wajib untuk dimiliki para manusia modern. Berbicara soal handphone tidak lengkap rasanya apabila tidak mengulas mengenai nomor handphone. Adapun nomor handphone saat ini telah banyak bervariasi dan memiliki angka lebih dari sepuluh digit. Karena pada zaman dahulu digit nomor handphone tidak lebih dari sembilan digit, dikarena pengguna handphone masih tergolong sedikit. Kemudian seiring bertambahnya permintaan nomor handphone, para penyedia jasa layanan seluler juga berlomba-lomba untuk menemukan inovasi baru dalam penomoran kartu Subscriber Identity Module (SIM). Adapun salah satu produk yang ditawarkan provider kepada masyarakat ialah kartu ‘nomor cantik’(anneahira.com:2018).
Menurut Arief Setiawan, setidaknya memiliki nomor cantik memiliki empat keuntungan, pertama nomor cantik pada umumnya sangat mudah dihapal. Sehingga para professional seperti advokat, konsultan, sales marketing dan para profesi lainnya sangat memerlukan nomor cantik agar mudah dicatat atau diingat klien oleh mereka. Kedua, nomor cantik juga dapat menandakan kemapanan seseorang. Karena nomor cantik biasanya dibandrol dengan harga yang relatif mahal, sehingga untuk membelinya seseorang harus merogoh kocek lebih dalam. Oleh karena itu tidak semua orang dapat membelinya. Harga nomor cantik dapat berkisar ratusan ribu rupiah dan bahkan jutaan ribu rupiah, tergantung tingkat kecantikannya. Ketiga, di era kekinian yang hampir setiap orang memiliki nomor SIM card, tentu harus berhati-hati apabila dihubungi oleh nomor-nomor yang tidak dikenal, karena berpotensi penipuan. Namun ketika seseorang dihubungi oleh nomor cantik, tentu akan memiliki persepsi yang berbeda. Karena akan kecil kemungkinan para pelaku kejahatan dalam melancarkan aksinya menggunakan nomor cantik. Keempat, seiring berjalannya waktu, nomor cantik juga dapat digunakan sebagai investasi yang makin lama semakin tinggi harganya (ariefsetiawan.com: 2018).

‘Nomor Cantik’ Pengucap Tri Krama Adhyaksa
Selama saya mengikuti Pendidikan dan Pelatihan Pembentukan Jaksa (PPPJ) Angkatan 74 Gelombang 1 tahun 2017 hal yang paling menarik sekaligus menegangkan ialah setiap harinya pada pelaksanaan apel pagi dan apel malam para siswa wajib mengucapkan Tri Krama Adhyaksa. Kemudian bagian lebih menegangkan ialah, seorang pengucap Tri Krama Adhyaksa haruslah maju ke depan dan memimpin pengucapan Tri Krama diikuti oleh seluruh peserta apel. Selain itu pengucap Tri Krama bukanlah petugas yang ditunjuk sebelumnnya atau memang peserta yang terpilih karena sudah hapal. Namun selama PPPJ Angkatan 74, penerima apel yang akan memilih atau menunjuk peserta yang maju ke depan untuk mengucapkan Tri Krama Adhyaksa. Dengan demikian konsekuensinya, setiap siswa PPPJ harus siap dan wajib hapal terhadap pedoman hidup bagi warga kejaksaan tersebut. Bahkan dalam hal ini Sekretaris Badan Diklat (SesBadan), bapak Elvis Jhony mewajibkan semua peserta menempelkan Tri Krama Ahdyaksa di setiap kamar masing-masing. Agar semua perseta dapat menghapal dan menghayati makna filosofis dari Tri Krama Adhyaksa.
Adapun secara teknis, biasanya penerima apel tidak memanggil nama dari peserta untuk maju ke depan. Tapi penerima apel cukup menyebutkan kelas dan nomor absen atau nomor absen dulu kemudian kelas dari peserta. Misalnya sebagai contoh, saya sendiri siswa kelas III dan nomor absen 35. Apabila seandainya dipanggil, penerima apel cukup menyebutkan “yang maju ke depan siswa kelas III nomor 35”, maka saya wajib untuk maju ke depan mengucapkan Tri Krama Ahdyaksa diikuti seluruh peserta lainnya.
Nah, disinilah yang menjadi saat-saat yang mendebarkan bagi kami semua, setiap pagi dan malamnya selama menghabiskan pendidikan Jaksa di Badan Diklat Kejaksaan Republik Indonesia. Bagaimana tidak, banyak diantara kami yang berdoa supaya tidak kena giliran untuk maju ke depan mengucapkan Tri Krama Adhyaksa. Bahkan ada diantara peserta yang sudah mencari ‘joki’ untuk menggantikannya maju ke depan. Adapun yang menjadi hal lebih menegangkan lagi, ternyata apabila sudah pernah maju ke depan tidak menutup kemungkinan bagi kawan-kawan yang sudah pernah maju sebagai pengucap untuk dipanggil kembali. Hal ini dialami oleh kedua teman satu kamar saya, yaitu saudara Hafid Listiyo Kusumo (Hafid) dan Devi Andre Zuhandika (Andre) yang maju ke depan lebih dari satu kali.
Hafid selama PPPJ berasal dari kelas IV dan memiliki nomor absen 14 selama pendidikan jaksa telah maju kedepan untuk mengucap Tri Krama Adhyaksa sebanyak lima kali. Sedangkan Andre yang berasal dari kelas VIII memiliki nomor yang sangat ‘cantik’ yaitu nomor delapan juga pada akhirnya maju sebanyak lima kali. Pada awalnya ketika Hafid dan Andre dipanggil untuk kedua kalinya, kami masih biasa-biasa saja. Namun ketika Andre yang lebih dahulu dipanggil sampai tiga kali, kami mulai membuat papan skor klasmen Tri Krama Adhyaksa. Pesertanya terdiri dari kami bertiga, teman satu kamar yaitu saudara Hafid, Andre dan saya sendiri. Namun hingga sampai berlajan empat bulan PPPJ Hafid dan Andre sudah sama ketatnya persaingan yaitu sama-sama empat kali maju ke depan, tapi saya tetap kosong.
Kemudian hingga pada akhirnya menjelang PPPJ selesai, Andre dan Hafid sama-sama mengumpulkan rekor lima kali maju ke depan untuk mengucapkan Tri Krama Adhyaksa. Sedangkan saya tidak pernah sama sekali. Ternyata setelah kami identifikasi, penyebab mereka berdua mendapatkan rekor terbanyak maju mengucapkan Tri Krama Adhyaksa ialah dikarenakan mereka mendapatkan ‘nomor absen cantik’. Hafid kelas empat nomor 14, sedangkan Andre kelas delapan nomor delapan. Jadi pada penerima apel kebanyakan senang memanggil nomor-nomor cantik, seperti kelas tiga nomor absen tiga, kelas lima nomor absen lima. Kadang-kadang para penerima apel juga suka menyebutkan nomor absen terakhir atau nomor absen pertama. Misalnya kelas dua nomor absen terakhir, kelas tujuh nomor absen pertama.
Dalam hal ini, ternyata hingga sampai selesai PPPJ pun nomor absen saya tidak pernah dipanggil untuk maju ke depan. Mungkin kerena nomor absen saya nomor 35 bukanlah nomor cantik seperti absen kelas delapan nomor delapan milik saudara Andre dan nomor absen 14 dari saudara Hafid. Tapi meskipun selama apel pagi maupun malam saya tidak pernah dipanggil untuk mengucapkan Tri Krama Adhyaksa, pada akhirnya dalam audisi 25 besar setiap peserta termasuk saya wajib mengucapkan Tri Krama Adhyaksa. Pada moment inilah kesempatan saya untuk mengucapkan Tri Krama Adhyaksa.
Terlepas dari ‘rekor pengucap Tri Krama Adhyaksa’ yang dipegang oleh saudara Hafid dan Andre selama PPPJ Angkatan 74 tahun 2017. Doktrin Tri Krama Adhyaksa tidak hanya wajib untuk diucapan namun juga harus diamalkan bagi maknanya bagi setiap insan Adhyaksa. Adapun Tri Krama Adhyaksa terdiri dari tiga hal yaitu, Satya yang berbunyi, “kesetiaan yang bersumber pada rasa jujur baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa, terhadap diri pribadi dan Keluarga maupun terhadap sesama manusia. Adhi, kesempurnaan dalam bertugas dan berunsur utama pemilikan rasa tanggung jawab, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa, terhadap keluarga dan terhadap sesama manusia. Wicaksana, bijaksana dalam tutur kata dan tingkah laku khususnya dalam penerapan kekuasaan dan kewenangannya”.


[1] Kasubsi Pra Penuntutan Pidum Kejaksaan Negeri Penajam Paser Utara, Peraih Prima Adhyaksa (Peringkat 1) PPPJ Angkatan 74 Gelombang 1 tahun 2017.