Oleh
: Nur Rachmansyah[1]
“Asam di gunung, garam
di laut” adalah sebuah penggalan pribahasa yang bermakna Seseorang yang
merantau jauh dari kampung halamannya suatu saat akan kembali juga ke kampung asalnya.
Pribahasa tersebut tidak lepas karena pada umumnya garam memang berasal dari
air laut. Indonesia sendiri adalah salah satu negara penghasil garam, mengingat
sebagian besar wilayahnya terdiri dari lautan. Tapi ternyata pribahasa yang
disebutkan di atas tidak selamanya benar. Garam yang pada umumnya berasal dari
laut, namun di sini bisa kita temukan dari gunung. Ialah pada sebuah daerah tepatnya
di Desa
Long Midang, Gunung Krayan, Kecamatan Krayan, Kabupaten Nunukan, Propinsi
Kalimantan Utara perbatasan langsung dengan Serawak Malaysia. Daerah yang
notabenenya sangat jauh dari lautan dan berada pada ketinggian sekitar 890
Mdpl.
Saya sendiri baru-baru
ini sekitar pada awal bulan Mei 2016 telah mengunjungi daerah yang dijuluki
bumi Lundayeh tersebut. Perjalanan saya ke sana bermula saat kami di Kejaksaan
Negeri Nunukan mendapatkan perintah dari Kejaksaan Agung melalui Kejaksaan
Tinggi Kalimantan Timur untuk melakukan pemeriksaan setempat terhadap sebuah
proyek pembangunan di Kecamatan Krayan. Dari Bandar Udara (bandara) Nunukan
saya bersama Tim Kejaksaan Negeri Nunukan yang terdiri dari Kasi Pidsus Rusli
Usman, SH, Kasi Intelejen Ari Prasetya Panca Admaja dan Jaksa Ali Mustofa SH
berangkat menuju Krayan menggunakan pesawat jenis Cassa dari maskapai Air Born.
Perjalanan dari Nunukan menuju ke bandara perintis Long Bawan Krayan
menghabiskan waktu sekitar 50 menit. Setelah sampai di bandara Long Bawan, kami
dijemput oleh pak Didik, orang yang memandu kami selama di Krayan.
Dari bandara, kami
langsung diantar oleh pak Didik menuju lokasi tempat pembangunan proyek yang
akan kami periksa. Namun hanya sampai setengah perjalanan, kami mengurungkan
niat kami untuk langsung ke lokasi yang akan dituju karena kondisi jalan dan
cuaca sedang tidak mendukung. Kami pun, mengalihkan tujuan kami untuk memeriksa
proyek pembagunan lain yang ada di Kecamatan Krayan. Karena sebelumnya kami
dari Kejaksaan Negeri Nunukan juga telah mendapatkan laporan dan informasi dari
masyarakat bahwa ada beberapa proyek pembangunan di Krayan yang terindikasi ada
penyimpangan.
Selama perjalanan di
Krayan kami menggunakan kendaraan mobil jenis Toyota Hilux yang berasal dan
berflat nomor Malaysia. Adapun di Krayan tidak aneh jika hampir 90 pesen
kendaraan berflat nomor Malaysia. Karena Krayan merupakan daerah yang
terisolasi dari Indonesia disebabkan akses darat yang sangat sulit untuk bisa
sampai ke Krayan. Meskipun saat ini sudah ada jalan yang menghubungkan Krayan
dengan Kabupaten Malinau, tetapi menurut informasi masyarakan Krayan, jalan
tersebut hanya bisa ditempuh menggunakan kendaraan roda dua.
Curahan
Hati Orang Perbatasan
Tidak mudah bagi warga
Negara Indonesia yang berada di Krayan untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Jikalau
daerah-daerah perkotaan masyarakatnya bisa dengan mudah untuk memenuhi
kebutuhan pokok. Maka di Krayan, masyarakat sangat bergantung dengan kemurahan
hati Negara tetangga (Malaysia). Setiap harinya masyarakat Krayan melintasi
perbatasan Indonesia-Malaysia untuk membeli kebutuhan. Bahkan, menurut cerita
dari seorang ibu tukang warung tempat kami singgah, membeli sayur-sayuran pun
juga dari Malaysia.
Dalam aspek
transportasi, di Krayan juga masih sangat memprihatinkan, bahkan ada gurauan di
kalangan masyarakat Krayan, “aspal di Krayan Cuma ada di bandara, selain itu
tidak ada”. Kami pun menjadi saksi hal tersebut, bahwa benar sepanjang kami
menyusuri jalan-jalan di Krayan, jalan di sana masih rusak dan berbatu. Bahkan
apabila hujan turun, banyak sekali jalan yang hanya bisa dilewati oleh
kendaraan jenis four-wheel drive (4WD). Satu hal yang sangat ironis di sana adalah
ketika kami sampai pada titik nol jalan perbatasan Indonesia-Malaysia. Sangat
terlihat perbedaan antara jalan milik Malaysia dengan jalan Indonesia. Jalan
dari arah Malaysia beraspal dan mulus, tetapi tepat dibatas perbatasan kedua
negara terpotong menjadi rusak dan berbatu.
Selain jalan, yang
harus menjadi perhatian Pemerintah Indonesia adalah sarana listrik. Kondisinya
saat ini, bagi masyarakat Krayan hanya bisa menikmati listrik mulai dari pukul
18.00 sampai dengan pukul 23.00. Menurut cerita warga yang kami temui, pada
sekitar awal tahun 2015 Perusahaan Listrik Negara (PLN) pernah melakukan
sosialisasi dengan kampanye slogan ‘Perbatasan terang benderang’. Tapi sangat disayangkan
hingga kini hal tersebut belum bisa dirasakan oleh pada penduduk di Krayan.
Di tengah segala
keterbatasan yang dialami oleh masyarakat Krayan, tapi hal tersebut tidak
mengurangi rasa Nasionalisme mereka kepada Republik Indonesia. Setiap tahunnya
salah satu momentum yang sangat ditunggu-tunggu masyarakat di sana adalah
peringatan HUT Republik Indonesia 17 Agustus. Menurut cerita pak Didik yang
menemani kami, perayaan 17 Agustus di Krayan setiap tahunnya dilaksanakan
selama satu bulan penuh. Banyak kegiatan yang diselenggarakan mulai dari panjat
pinang sampai pertandingan sepak bola. Menurut Camat Krayan yang sempat kami
temui, diseluruh Krayan ada sekitar 65 Desa dan semua desa tersebut
berpartisipasi dalam berbagai kegiatan perlombaan. Bahkan dalam pertandingan
sepak bola, juga mengundang saudara tetangga mereka dari Negeri Jiran Malaysia.
Tidak banyak yang
diharapkan oleh masyarakat perbatasan, mereka hanya berharap pemerintah
Republik Indonesia tidak lupa kepada mereka. Karena merekalah simbol
reperesentasi masyarakat Indonesia di hadapan Negara tetangga. Mereka yang
berada di beranda terdepan Indonesia. Mulai dari sarana transportasi hingga hak
mereka untuk menikmati listrik harus menjadi perhatian pemerintah kita. Pemerintah
Indonesia juga harus bisa menjaga komunikasi hubungan baik dengan Negara tetangga.
Karena hidup mereka yang di perbatasan sangatlah bergantung dengan Malaysia. Bayangkan
saja apabila Pemerintah Malaysia menutup pasokan barang dari negaranya, tentu
akan mengakibatkan kelangkaan bahan pokok bagi saudara kita di perbatasan.
Nunukan, 29 Mei 2016
(Perbatasan Indonesia-Malaysia)

