Oleh:
Nur Rachmansyah
Di Indonesia tanggal 21 April identik
dengan hari Kartini, bahkan tidak sedikit wanita di berbagai daerah
merayakannya dengan memakai pakaian adat daerah, lebih khusus lagi menggunakan
kebaya. Juga tidak sedikit anak sekolah mulai jenjang Taman Kanak-kanak (TK)
hingga sekolah menengah dirias sedemikian rupa, untuk kemudian melakukan long march. Adapun bentuk perayaan
lainnya yakni berupa kontes busana adat atau ajang pemilihan model Kartini. Peringatan
Hari Kartini memang sering diikuti beragam acara yang mengedepankan emansipasi
perempuan, kesetaraan gender, perjuangan feminisme, dan lain-lain. Karena
Kartini, dianggap sebagai ikon bagi perjuangan perempuan dalam persoalan
tersebut. Kartini sering disebut sebagai ikon pendobrak bagi kemajuan perempuan
Indonesia dan diakui secara resmi oleh pemerintah sebagai Pahlawan Nasional
dengan Keputusan Presiden (Keppres) RI No. 108 tahun 1964.
Tetapi yang menjadi pertanyaan, mengapa
harus Kartini? apakah tidak ada wanita lain selain Kartini? dan sejauh manakah
peran dan jasa Kartini untuk perempuan? Hal inilah yang seharusnya di
identifikasikan kembali oleh kita semua. Maksud penulis di sini bukan berarti
menggugat pribadi Kartini, dikarenakan tentu banyak hal positif yang bisa
diambil dari Kartini.
Politik
Pencitraan
Penetapan tanggal
kelahiran Kartini sebagai hari besar nasional untuk memaknai perjuangannya
dalam melepaskan belenggu kaum perempuan, seperti pendidikan dan persamaan hak,
menimbulkan pertanyaan tentang mengapa hanya Kartini yang dipilih sebagai tokoh
sentral. Hal ini bisa sedikit terungkap jika kita lihat asal muasalnya. Nama
Kartini sendiri muncul setelah J.H. Abendanon mengumpulkan surat-suratnya, dan
dibukukan dengan judul Door Duisternis
tot Licht (Dari Kegelapan Menuju Cahaya). Buku yang mengalami enam kali
cetak ini diterbitkan pada 1911 atau tujuh tahun setelah Kartini wafat. Sebelum
J.H. Abendanon menerbitkan buku ini, namanya hampir tidak dikenal oleh
orang-orang Indonesia di luar lingkungan Kartini sendiri.
Dalam
bahasa Inggris, surat-surat Kartini diterjemahkan oleh Agnes L Symmers, dengan
judul Letters of a Javanese Princess.
Pada 1922, edisi bahasa Melayunya terbit dengan judul Habis Gelap Terbitlah
Terang; Boeah Pikiran. Buku ini diterbitkan oleh Balai Pustaka. Armijn Pane,
tokoh Pujangga Baru, tercatat sebagai salah seorang penerjemahnya. Selain itu,
surat-surat Kartini juga diterjemahkan dalam bahasa Jawa, Sunda, dan Arab.
Tepat dua tahun setelah penerbitan Door Duisternis tot Licht, dibangun sejumlah
sekolah di Jawa Tengah atas inisiatif pengumpulan dana oleh sahabatnya, Hilda
de Booy-Boissevain. Setahun kemudian, 27 Juni 1913, berdiri Komite Kartini
Fonds yang dipimpin tokoh pemrakarsa politik etis, C.Th. van Deventer. Lalu
yayasan ini berhasil mendirikan Sekolah Kartini di berbagai kota, seperti
Surabaya, Yogyakarta Malang Madiun, Cirebon, dan daerah lainnya. Besarnya
perhatian terhadap Kartini, disebabkan karena orang-orang Belanda ini kagum
dengan pemikiran-pemikiran Kartini, yang mereka sebut, melampaui jamannya.