Minggu, 25 Mei 2014

Kartini: Antara Gagasan atau Curhat'?

Oleh: Nur Rachmansyah
Di Indonesia tanggal 21 April identik dengan hari Kartini, bahkan tidak sedikit wanita di berbagai daerah merayakannya dengan memakai pakaian adat daerah, lebih khusus lagi menggunakan kebaya. Juga tidak sedikit anak sekolah mulai jenjang Taman Kanak-kanak (TK) hingga sekolah menengah dirias sedemikian rupa, untuk kemudian melakukan long march. Adapun bentuk perayaan lainnya yakni berupa kontes busana adat atau ajang pemilihan model Kartini. Peringatan Hari Kartini memang sering diikuti beragam acara yang mengedepankan emansipasi perempuan, kesetaraan gender, perjuangan feminisme, dan lain-lain. Karena Kartini, dianggap sebagai ikon bagi perjuangan perempuan dalam persoalan tersebut. Kartini sering disebut sebagai ikon pendobrak bagi kemajuan perempuan Indonesia dan diakui secara resmi oleh pemerintah sebagai Pahlawan Nasional dengan Keputusan Presiden (Keppres) RI No. 108 tahun 1964.
Tetapi yang menjadi pertanyaan, mengapa harus Kartini? apakah tidak ada wanita lain selain Kartini? dan sejauh manakah peran dan jasa Kartini untuk perempuan? Hal inilah yang seharusnya di identifikasikan kembali oleh kita semua. Maksud penulis di sini bukan berarti menggugat pribadi Kartini, dikarenakan tentu banyak hal positif yang bisa diambil dari Kartini.

Politik Pencitraan
Penetapan tanggal kelahiran Kartini sebagai hari besar nasional untuk memaknai perjuangannya dalam melepaskan belenggu kaum perempuan, seperti pendidikan dan persamaan hak, menimbulkan pertanyaan tentang mengapa hanya Kartini yang dipilih sebagai tokoh sentral. Hal ini bisa sedikit terungkap jika kita lihat asal muasalnya. Nama Kartini sendiri muncul setelah J.H. Abendanon mengumpulkan surat-suratnya, dan dibukukan dengan judul Door Duisternis tot Licht (Dari Kegelapan Menuju Cahaya). Buku yang mengalami enam kali cetak ini diterbitkan pada 1911 atau tujuh tahun setelah Kartini wafat. Sebelum J.H. Abendanon menerbitkan buku ini, namanya hampir tidak dikenal oleh orang-orang Indonesia di luar lingkungan Kartini sendiri.

Dalam bahasa Inggris, surat-surat Kartini diterjemahkan oleh Agnes L Symmers, dengan judul Letters of a Javanese Princess. Pada 1922, edisi bahasa Melayunya terbit dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang; Boeah Pikiran. Buku ini diterbitkan oleh Balai Pustaka. Armijn Pane, tokoh Pujangga Baru, tercatat sebagai salah seorang penerjemahnya. Selain itu, surat-surat Kartini juga diterjemahkan dalam bahasa Jawa, Sunda, dan Arab. Tepat dua tahun setelah penerbitan Door Duisternis tot Licht, dibangun sejumlah sekolah di Jawa Tengah atas inisiatif pengumpulan dana oleh sahabatnya, Hilda de Booy-Boissevain. Setahun kemudian, 27 Juni 1913, berdiri Komite Kartini Fonds yang dipimpin tokoh pemrakarsa politik etis, C.Th. van Deventer. Lalu yayasan ini berhasil mendirikan Sekolah Kartini di berbagai kota, seperti Surabaya, Yogyakarta Malang Madiun, Cirebon, dan daerah lainnya. Besarnya perhatian terhadap Kartini, disebabkan karena orang-orang Belanda ini kagum dengan pemikiran-pemikiran Kartini, yang mereka sebut, melampaui jamannya.