Oleh:
Nur Rachmansyah[1]
‘Kopi Intelektual’,
ialah judul salah satu BAB di dalam Novel berjudul Panggil Ia Gie, sebuah Novel karangan kanda Ahmad Sahide. Novel
yang menceritakan seorang mahasiswa yang menjadi aktivis di kampus tempat ia
kuliah. Sebuah cerita yang sangat menggambarkan diri saya pada saat itu. Dari
semenjak membaca Novel itulah saya mulai bergabung dengan Komunitas Belajar
Menulis (KBM). Adapun KBM ialah sebuah komunitas menulis yang didirikan oleh
kanda Ahmad Sahide, saudara Rezki Satris dan almarhum Arkie Aninditya.
Saya
mulai bergabung dengan KBM sekitar awal tahun 2011, berselang beberapa bulan setelah
KBM dibentuk yaitu pada tanggal 21 Desember 2010. Banyak kegiatan yang saya
lalui bersama KBM, mulai dari membuat cerpen, membaca puisi, berdiskusi, sampai
ikut dalam menulis sebuah buku yang merjudul Mulla Sadra, Perempuan dan Sastra (2013). Hingga pada akhirnya, hal
yang paling menyedihkan bagi saya ialah pada sekitar bulan Maret tahun 2014,
saya harus meninggalkan Yogyakarta karena harus pulang ke Kalimantan. Pergi
meninggalkan Kota Pelajar otomatis harus membuat saya berpisah dengan KBM. Berpisah
dengan sebuah Komunitas yang mengajarkan saya banyak hal tentang menulis.
Dalam
perjalananya, KBM berkomitmen untuk berkarya dan berkumpul sekali dalam
seminggu dengan membawa sebuah karya tulisan bebas, seperti esai, puisi, atau
cerpen dan akan dikoreksi bersama-sama di dalam forum KBM. Dalam artian para
anggota KBM setiap minggunya wajib punya minimal satu karya, dalam kondisi
sesibuk apa pun dirinya. Seperti yang sering kanda Ahmad Sahide katakan di
dalam forum KBM, “masa sih tidak bisa menemukan waktu luang untuk menulis dua
atau tiga jam dalam sepekan”. Adapun selain menulis, para anggota KBM dianjurkan
untuk banyak membaca referensi. Karena menulis dan membaca, itu ibarat makan
dan minum dengan membuang kotoran dari dalam perut. Ketika ingin membuang
kotoran, tentu harus makan terlebih dahulu, dan sama hal membuat sebuah
gagasan, maka terlebih dahulu harus membaca.
Realitas Kekinian
Membaca dan menulis merupakan
dua sisi mata uang yang tidak terpisahkan, karna tulisan yang baik akan lahir dari orang-orang yang banyak membaca.
Adapun dengan membaca seseorang dapat mengetahui banyak hal yang tidak diketahuinya
dan dengan menulis seseorang dapat menelurkan gagasan yang ada di dalam
pikirannya. Sering menjadi pertanyaan dalam diri kita, mengapa negara kita
susah bersaing dengan negara-negara lain, apakah ada yang salah dengan pola
kehidupan negara kita? Seberapa tinggi pendidikan, kemampuan dan penguasaan
ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh masyarakat Indonesia? Atau sejauh mana
kontribusi, inovasi dan rekayasa teknologi yang sudah putra-putri Indonesia
buat? Ternyata yang menjadi salah satu permasalahan menurut Priyo Sularso, salah seorang Pustakawan Muda pada
Perpustakaan Nasional RI, ialah terletak kepada minat membaca dari bangsa
Indonesia (Perpusnas.go.id: 2016).
Sejalan
dengan hal di atas menurut data UNESCO pada 2012 melaporkan bahwa indeks minat
baca warga Indonesia baru mencapai angka 0,001. Artinya dalam setiap 1.000
orang Indonesia, hanya ada satu orang yang memiliki minat baca (kompasiana.com: 2014). Dengan keadaan demikian
wajar bila Indonesia dinobatkan sebagai negara dengan minat baca masyarakat
paling rendah di ASEAN. Rendahnya minat baca ini berpengaruh terhadap penulisan
karya-karya anak bangsa, karena bagaimana kita dapat membuat suatu karya jika
kajian referensi dalam pembuatan suatu karya tulis tersebut tidak dikuasai. Adapun
pemahaman untuk membuat suatu gagasan akan didapatkan dengan membaca
sumber-sumber pengetahuan seperti buku, Koran dan berbagai macam sarana ilmu
pengetahuan lainnya.
Menurut
saya, salah satu faktor yang menyebabkan rendahnya minat membaca dan menulis masyarakat
Indonesia ialah karena masyarakat kita sudah sangat dimanjakan dengan hal-hal
yang yang berupa audio-visual. Kecanggihan teknologi
sudah membuat orang lebih memilih menonton televisi, melihat youtube atau bahkan sibuk dengan akun
media sosialnya dari pada membaca sebuah buku. Adapun para generasi muda semakin
familiar dalam mempostingkan foto-foto atau menuliskan status yang bersifat
parsial di dalam media sosial seperti facebook,
twitter, Instagram, Path, Line
dan masih banyak jenis media sosial lainya.
Hadirnya KBM ibarat oasis
di tengah gurun pasir, KBM telah menjadi
sebuat wadah bagi para penulis muda untuk belajar dan mengasah kemampuannya. Di
tengah kelesuan generasi muda dalam ranah literasi, KBM tetap menelurkan
karya-karyanya. Adapun sejak didirikannya KBM, sudah hadir beberapa karya yang
bisa dibaca oleh khalayak secara luas. Karya pertama dengan judul Kusimpan
Kau Dalam Puisi diterbitkan pada tahun 2011. Selanjutnya Pada tahun 2012
KBM kembali menerbitkan kumpulan cerita pendek (cerpen), yang diberi judul Pesan
Mama Tentang Kematian yang Indah. Adapun pada tahun 2013 KBM telah
menerbitkan buku kumpulan esai dengan judul Mulla
Sadra, Perempuan dan Sastra. Dan hingga sampai pada tahun berjalan saya
sudah tidak terlalu mengikuti perkembangan KBM, selain hanya melihat perkembangannya
di grup Blackberry Messenger (BBM) Komunitas
Belajar Menulis yang setiap minggunya konsisten dalam memberikan posting
mengenai kegiatan KBM.
Harapan
Untuk KBM
Seorang sastrawan hebat Indonesia, Pramoedya Ananta
Toer
telah berpesan, “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak
menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah, menulis adalah bekerja
untuk keabadian.” Senada dengan hal tersebut Sayyid Qutb, seorang ilmuwan yang
juga sastrawan dan pemikir dari Mesir pernah mengungkapkan bahwa, “Peluru hanya
bisa menembus satu kepala, tetapi tulisan bisa menembus jutaan kepala.”
Kini diusianya yang keenam, KBM akan
terus diuji untuk tetap tekun dan konsisten dalam menggoreskan pena guna membangun
peradaban bangsa. Seperti kata kanda Ahmad Sahide, “banyak diantara anak muda
yang memiliki impian menjadi penulis, tetapi hanya sedikit yang mampu bertahan
dengan ketekunan dan konsistensinya. Banyak di antara mereka yang mempunyai
bakat dalam menulis, tetapi bakat yang mereka punya tidak berkembang atau tidak
menjadi apa-apa karena tidak ada ketekunan dan konsistensi”. (edunews.id: 2016).
Sebagai
kontribusinya, KBM telah membudayakan untuk membangun sebuah kebiasaan menulis
pada generasi muda. Dengan segala karyanya KBM menyumbang gagasan untuk diteruskan
sebagai warisan pada generasi yang akan datang. Sehingga suatu saat kelak
orang-orang akan tetap mengingat karya-karya dari para punggawa KBM. Sebagai
salah seorang yang pernah menjadi bagian dari KBM, saya berharap KBM akan terus
berkarya dan melahirkan para penulis-penulis hebat di masa yang akan. Para
penulis yang mampu membangun sebuah peradaban dengan tulisan yang
digoreskannya. Semoga dengan adanya KBM juga dapat memberikan inspirasi bagi
para penggiat gerakan literasi untuk berkembang ke seluruh penjuru negeri. Agar
masyarakat Indonesia semakin cerdas dan kaya akan ilmu pengetahuan, sehingga bangsa
Indonesia tidak dipandang ‘sebelah mata’ oleh bangsa lain. Karena segala
sesuatu akan dimulai dari hal yang terkecil dan KBM telah memulainya.
Kalimantan
Utara, 10 November 2016
[1]
Anggota Komunitas Belajar Menulis (KBM),
Saat ini bertugas di Kejaksaan Negeri Nunukan, Kalimantan Utara (Perbatasan
Indonesia-Malaysia).