Selasa, 04 Juli 2017

KBM di Tengah Realitas Kekinian



Oleh: Nur Rachmansyah[1]


‘Kopi Intelektual’, ialah judul salah satu BAB di dalam Novel berjudul Panggil Ia Gie, sebuah Novel karangan kanda Ahmad Sahide. Novel yang menceritakan seorang mahasiswa yang menjadi aktivis di kampus tempat ia kuliah. Sebuah cerita yang sangat menggambarkan diri saya pada saat itu. Dari semenjak membaca Novel itulah saya mulai bergabung dengan Komunitas Belajar Menulis (KBM). Adapun KBM ialah sebuah komunitas menulis yang didirikan oleh kanda Ahmad Sahide, saudara Rezki Satris dan almarhum Arkie Aninditya.
Saya mulai bergabung dengan KBM sekitar awal tahun 2011, berselang beberapa bulan setelah KBM dibentuk yaitu pada tanggal 21 Desember 2010. Banyak kegiatan yang saya lalui bersama KBM, mulai dari membuat cerpen, membaca puisi, berdiskusi, sampai ikut dalam menulis sebuah buku yang merjudul Mulla Sadra, Perempuan dan Sastra (2013). Hingga pada akhirnya, hal yang paling menyedihkan bagi saya ialah pada sekitar bulan Maret tahun 2014, saya harus meninggalkan Yogyakarta karena harus pulang ke Kalimantan. Pergi meninggalkan Kota Pelajar otomatis harus membuat saya berpisah dengan KBM. Berpisah dengan sebuah Komunitas yang mengajarkan saya banyak hal tentang menulis.
Dalam perjalananya, KBM berkomitmen untuk berkarya dan berkumpul sekali dalam seminggu dengan membawa sebuah karya tulisan bebas, seperti esai, puisi, atau cerpen dan akan dikoreksi bersama-sama di dalam forum KBM. Dalam artian para anggota KBM setiap minggunya wajib punya minimal satu karya, dalam kondisi sesibuk apa pun dirinya. Seperti yang sering kanda Ahmad Sahide katakan di dalam forum KBM, “masa sih tidak bisa menemukan waktu luang untuk menulis dua atau tiga jam dalam sepekan”. Adapun selain menulis, para anggota KBM dianjurkan untuk banyak membaca referensi. Karena menulis dan membaca, itu ibarat makan dan minum dengan membuang kotoran dari dalam perut. Ketika ingin membuang kotoran, tentu harus makan terlebih dahulu, dan sama hal membuat sebuah gagasan, maka terlebih dahulu harus membaca.

Realitas Kekinian
Membaca dan menulis merupakan dua sisi mata uang yang tidak terpisahkan, karna tulisan yang baik akan lahir dari orang-orang yang banyak membaca. Adapun dengan membaca seseorang dapat mengetahui banyak hal yang tidak diketahuinya dan dengan menulis seseorang dapat menelurkan gagasan yang ada di dalam pikirannya. Sering menjadi pertanyaan dalam diri kita, mengapa negara kita susah bersaing dengan negara-negara lain, apakah ada yang salah dengan pola kehidupan negara kita? Seberapa tinggi pendidikan, kemampuan dan penguasaan ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh masyarakat Indonesia? Atau sejauh mana kontribusi, inovasi dan rekayasa teknologi yang sudah putra-putri Indonesia buat? Ternyata yang menjadi salah satu permasalahan menurut Priyo Sularso, salah seorang Pustakawan Muda pada Perpustakaan Nasional RI, ialah terletak kepada minat membaca dari bangsa Indonesia (Perpusnas.go.id: 2016).
Sejalan dengan hal di atas menurut data UNESCO pada 2012 melaporkan bahwa indeks minat baca warga Indonesia baru mencapai angka 0,001. Artinya dalam setiap 1.000 orang Indonesia, hanya ada satu orang yang memiliki minat baca (kompasiana.com: 2014). Dengan keadaan demikian wajar bila Indonesia dinobatkan sebagai negara dengan minat baca masyarakat paling rendah di ASEAN. Rendahnya minat baca ini berpengaruh terhadap penulisan karya-karya anak bangsa, karena bagaimana kita dapat membuat suatu karya jika kajian referensi dalam pembuatan suatu karya tulis tersebut tidak dikuasai. Adapun pemahaman untuk membuat suatu gagasan akan didapatkan dengan membaca sumber-sumber pengetahuan seperti buku, Koran dan berbagai macam sarana ilmu pengetahuan lainnya.
Menurut saya, salah satu faktor yang menyebabkan rendahnya minat membaca dan menulis masyarakat Indonesia ialah karena masyarakat kita sudah sangat dimanjakan dengan hal-hal yang yang berupa audio-visual. Kecanggihan teknologi sudah membuat orang lebih memilih menonton televisi, melihat youtube atau bahkan sibuk dengan akun media sosialnya dari pada membaca sebuah buku. Adapun para generasi muda semakin familiar dalam mempostingkan foto-foto atau menuliskan status yang bersifat parsial di dalam media sosial seperti facebook, twitter, Instagram, Path, Line dan masih banyak jenis media sosial lainya.
Hadirnya KBM ibarat oasis di tengah gurun pasir,  KBM telah menjadi sebuat wadah bagi para penulis muda untuk belajar dan mengasah kemampuannya. Di tengah kelesuan generasi muda dalam ranah literasi, KBM tetap menelurkan karya-karyanya. Adapun sejak didirikannya KBM, sudah hadir beberapa karya yang bisa dibaca oleh khalayak secara luas. Karya pertama dengan judul Kusimpan Kau Dalam Puisi diterbitkan pada tahun 2011. Selanjutnya Pada tahun 2012 KBM kembali menerbitkan kumpulan cerita pendek (cerpen), yang diberi judul Pesan Mama Tentang Kematian yang Indah. Adapun pada tahun 2013 KBM telah menerbitkan buku kumpulan esai dengan judul Mulla Sadra, Perempuan dan Sastra. Dan hingga sampai pada tahun berjalan saya sudah tidak terlalu mengikuti perkembangan KBM, selain hanya melihat perkembangannya di grup Blackberry Messenger (BBM) Komunitas Belajar Menulis yang setiap minggunya konsisten dalam memberikan posting mengenai kegiatan KBM.

Harapan Untuk KBM
Seorang sastrawan hebat Indonesia, Pramoedya Ananta Toer telah berpesan, “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah, menulis adalah bekerja untuk keabadian.” Senada dengan hal tersebut Sayyid Qutb, seorang ilmuwan yang juga sastrawan dan pemikir dari Mesir pernah mengungkapkan bahwa, “Peluru hanya bisa menembus satu kepala, tetapi tulisan bisa menembus jutaan kepala.”
Kini diusianya yang keenam, KBM akan terus diuji untuk tetap tekun dan konsisten dalam menggoreskan pena guna membangun peradaban bangsa. Seperti kata kanda Ahmad Sahide, “banyak diantara anak muda yang memiliki impian menjadi penulis, tetapi hanya sedikit yang mampu bertahan dengan ketekunan dan konsistensinya. Banyak di antara mereka yang mempunyai bakat dalam menulis, tetapi bakat yang mereka punya tidak berkembang atau tidak menjadi apa-apa karena tidak ada ketekunan dan konsistensi”. (edunews.id: 2016).
Sebagai kontribusinya, KBM telah membudayakan untuk membangun sebuah kebiasaan menulis pada generasi muda. Dengan segala karyanya KBM menyumbang gagasan untuk diteruskan sebagai warisan pada generasi yang akan datang. Sehingga suatu saat kelak orang-orang akan tetap mengingat karya-karya dari para punggawa KBM. Sebagai salah seorang yang pernah menjadi bagian dari KBM, saya berharap KBM akan terus berkarya dan melahirkan para penulis-penulis hebat di masa yang akan. Para penulis yang mampu membangun sebuah peradaban dengan tulisan yang digoreskannya. Semoga dengan adanya KBM juga dapat memberikan inspirasi bagi para penggiat gerakan literasi untuk berkembang ke seluruh penjuru negeri. Agar masyarakat Indonesia semakin cerdas dan kaya akan ilmu pengetahuan, sehingga bangsa Indonesia tidak dipandang ‘sebelah mata’ oleh bangsa lain. Karena segala sesuatu akan dimulai dari hal yang terkecil dan KBM telah memulainya.



                                                                        Kalimantan Utara, 10 November 2016


[1]  Anggota Komunitas Belajar Menulis (KBM), Saat ini bertugas di Kejaksaan Negeri Nunukan, Kalimantan Utara (Perbatasan Indonesia-Malaysia).