Oleh: Nur Rachmansyah
Menjelang
sebelum waktu shalat shubuh, aku terkaget karena terbangun dari mimpiku.
Tampaknya Redho membangunkanku. Redho mengingatkanku kalau pagi-pagi kami sudah
harus berangkat mendaki gunung. Mendaki gunung sebenarnya tampak familiar di
telingaku. Karena sering diceritakan oleh teman-temanku bagaimana suasana
ketika mendaki gunung. Tetapi aku sendiri belum pernah merasakan bagaimana
rasanya mendaki gunung. Yang aku ketahui ketika mendaki gunung, biasanya tidak
bisa dipisahkan dengan hutan, karena sebagian besar gunung di Indonesia selalu
diselimuti oleh hutan. Sebenarnya kalau berbicara hutan tidaklah asing bagi
diriku, karena aku sendiri berasal dari Pulau Kalimantan yang masih sangat
banyak hutannya.
Gunung
yang akan kami daki adalah gunung Lawu, yaitu gunung yang berada tepatnya di
perbatasan antara Kabupaten Karanganyar (Jawa Tengah) dengan kabupaten Magetan
(Jawa Timur).
Kemudian
setelah aku dibagunkan oleh Redho. Redho bertanya, “Bagaimana Perbekalan Imam[1]?”
Aku
menjawab, “ Belum Do...!!!” “Ayo temanin saya beli!” lanjutku.
Kemudian
aku bersama-sama Redho dengan menggunakan sepeda motor Mio bewarna putih milik
Dolly Setiawan. Kami bergegas menuju Indomaret yang tidak jauh dari kontrakan
Komisariat HMI FH UII, tepatnya di pertigaan Jalan Golo. Sesampainya di depan
Indomaret aku memarkir motor di depan Pintu Indomaret. Tidak lupa juga aku
membawa helm masuk ke dalam serta meletakkan tepat di depan meja kasir. Aku dan
Redho kemudian mencari bahan-bahan makanan untuk bekal kami mendaki gunung.
Bahan makanan yang pertama kami cari adalah mie Instan. Awalnya Redho ingin
megambih mie ‘Sedap’ Goreng, tapi aku mengatakan. “Lebih baik Mie yang ini!!!”
sambil tanganku mengambil mie kare Spesial. Aku berpikir daripada membawa mie
goreng akan lebih baik membawa mie yang mengandung kuah. Selain karena porsinya
lebih banyak daripada mie goreng karena ditambah kuah. Kuah kare yang ketika
diberi cabe nantinya juga akan membantu menghangatkan perut. Mengingat cuaca di
gunung sangatlah dingin.
Setelah
selesai membeli makanan sebagai bekal. Aku dan Redho beranjak menuju warung
Burjo yang letaknya tepat di belakang Indomaret tempat kami berbelanja. Burjo
ini juga biasa dikatakan sebagai Burjo Jalan Golo. Aku dan Redho memesan dua
piring Nasi Telur ditambah dua gelas air hangat.
Sehabis
mengisi perut di Burjo, aku dan Redho menuju kost Muhsin. Setibanya kami di
kost Muhsin, ternyata di Kost Muhsin ada Albert dan Muhsin yang sepertinya
mereka baru bangun tidur. Tampaknya mereka juga sedang mempersiapkan peralatan
pendakian. Mulai dari tenda, tikar, tas, peralatan masak, serta bahan-bahan
makanan lainnya. Setelah menyapaku yang baru datang, Albert menuju kamar mandi
untuk mandi. Redho pun turut mengecek peralatan yang sudah disiapkan oleh
Muhsin.
Aku
dan Redho pun kembali ke kontrakan Komisariat HMI FH UII untuk mempersiapkan
peralatan yang akan kami bawa mendaki. Tidak lupa juga untuk mandi. Tidak
banyak pakaian yang aku bawa, hanya sebuah baju jersey Barcelona yang aku
kenakan, celana training dan dua buah jaket yang lumayan tebal. Aku juga tidak
lupa untuk memasukkan bahan-bahan makanan yang telah aku beli bersama Redho ke
dalam tas ransel.
Selesai
mandi dan berkemas-kemas aku dan Redho menuju ke Kost Muhsin. Ternyata di Kost
Muhsin sudah ada, Muhsin, Albert, Fahmi dan Said. Pada saat aku tiba, Said
sedang berfhoto-fhoto sembari mengenakan Celana pendek, baju singlet Hitam dan
sudah memakai sepatu. Penampilan Said tampak keren sekali mengenakan dress cort tersebut, apalagi ditambah
slayer Hisbulaton[2]
yang melingkar di kepala Said. Said juga tampak sangat antusias persiapan
perjalanan kami. Maka yang menjadi tim pendakian kami terdiri enam orang yaitu,
Aku, Redho, Albert, Muhsin, Fahmi dan Said.
Setelah
segala peralatan pendakian sudah lengkap dan telah disiapkan. Kami berenam
mengambil dan menyalakan kendaraan. Kami menggunakan tiga buah sepeda motor
untuk saling berboncengan. Aku berboncengan dengan Redho, Muhsin berboncengan
dengan Fahmi, dan Albert berboncengan dengan Said. Kemudian kami pun berangkat
bersama-sama secara beriringan.
Dalam
perjalanan tepatnya di jalan Taman Siswa depan Hotel Wisanti yang masih tidak
jauh dari Kost Muhsin. Aku mengingat-ngingat apakah masih ada barang yang
tertinggal? Aku pun bertanya kepada Redho?
“Do
bendera HMI sudah dibawa blom?”
“Wah,
lupa mam” jawab Redho.
Redho
pun langsung melanjutkan perkataan, “Ayo kita balik aja Mam, kita ambil bendera HMI...!!!”
Awalnya aku ragu untuk kembali,
karena aku pikir apabila kembali akan membuang-buang waktu perjalanan kami
saja. Tapi kemudian aku mengingat betapa pentingnya bendera HMI untuk dibawa.
Bendera yang nantinya akan mengukir sejarah di puncak tertinggi gunung Lawu.
Tanpa bendera HMI, perjalanan ke puncak lawu, bagiku akan sia-sia. Karena misi
utamaku adalah mengibarkan ‘Sang Hijau Hitam’ di puncak tertingi gunung Lawu.
Aku pun memutuskan untuk memutar motor kembali menuju rumah perjuangan HMI FH
UII dengan tujuan mengambil bendera.
****
Setelah
perjalanan kurang lebih sekitar 2 ½ jam dari Jogja akhirnya kami berenam sampai
di daerah Magetan perbatasan dengan Karanganyar. Sepanjang perjalanan kami
melintasi beberapa daerah yang terdiri dari, Klaten, Boyolali, Solo,
Karanganyar dan terakhir Magetan. Satu hal yang menarik perhatianku ketika kami
melewati daerah Karanganyar. Bupati Karanganyar adalah seorang perempuan, dan
yang menarik adalah hampir seluruh wilayah Karanganyar yang kami lewati. Baliho
dan spanduk yang ada sangat banyak terpampang fhoto Bupati tersebut. yang
menjadi pertanyaan dibenakku “ini Bupati atau Fhoto model, Kok banyak banget fhotonya....?”
Sebenarnya
tidak masalah seorang kepala daerah memasang baliho atau sepanduk yang ada
fhoto dirinya. Karena pemasangan fhoto adalah bagian dari pencitraan kepala
daerah kepada rakyatnya. Tetapi apabila berlibihan juga tidak baik karena akan
menjadi narsis.
Di
Karanganyar, tepatnya di daerah Tawangmangu jalanannya terdiri dari
tanjakan-tanjakan yang sangat tinggi. Sehingga motor kami pun mengalami
kesulitan untuk melewatinya. Tetapi yang sangat menakjubkan adalah pemandangan
daerah Tawangmangu. Hamparan perkebunan menyelimuti bukit-bukit, berbagai
tanaman buah-buahan dan sayur mayur menghiasi petak demi petak tanah yang ada
di bukit. Rumah-rumah warga berjajar dengan rapi di sepanjang jalan. Kami pun
banyak menjumpai para petani yang sedang beraktifitas. Tampaknya sebagian besar
penduduk berprofesi sebagai petani.
Daerah Tawangmangu ini mengingatkan aku pada desa-desa yang tergambarkan di
dalam buku pelajaran Bahasa Indonesia ketika aku masih duduk di bangku SD. Yang
ada di benakku “betapa Indahnya Tawangmangu, udara dingin nan sejuk dihiasi
dengan indahnya pemandangan alam....!!!!”
Sesampainya
di basecame Cemara Sewu, kami
langsung memarkir motor, dan beberapa dari kami
mendaftarkan administrasi pada petugas yang berjaga di Gerbang basecame. Kami pun beristirahat sejenak
di basecame Cemara Sewu. Aku dan
Redho langsung menuju warung yang ada di samping basecame. Kami memesan dua buah nasi rames dan dua gelas kopi
hitam. Tidak lama ketika kami makan, Albert datang dan memesan nasi rames sama
seperti yaang aku pesan bersama Redho. Di depanku ada sebuah toples yang berisi
kerupuk, dan aku pun mengambil kerupuk yang ada di dalam toples tersebut.
ternyata rasa kerupuknya cukup lezat.
Sampai-sampai
aku berkata kepada Albert, “Bert, bagaimana kalau toples kerupuk ini kita bawa
aja ke Gunung, hehe”!!!!!
Albert
pun hanya tertawa, “hehehe.”
Kemudian
setelah makan, Albert memesan tiga bungkus nasi putih untuk dibawa sebagai
bekal pendakian.
****
Perjalanan
pendakian kami pun dimulai. Redho berada pada posisi paling depan dan diikuti
oleh Albert di belakang Redho. Said tidak melewatkan Start perjalanan kami dengan berfhoto. Terhitung berkali-kali Said
di Fhoto oleh Fahmi yang memegang kamera. Tidak lupa juga Said mengajakku untuk
berfhoto bersama
“Bang Fhoto bareng lah kita,,!!!! Ujar Said kepadaku.
Ok
ok, “jawabku.”
Aku
pun kemudian berfhoto bersama Said.
Melihat
Said berkali-kali berfhoto, akhirnya Albert juga tertarik untuk ikut
berfhoto-fhoto bersama aku dan Said.
Ketika
perjalanan kami agak mulai jauh dari Basecame
Cemara Sewu. Akhirnya aku mengeluarkan senjataku. Yaitu parang Mandau yang
memang telah jauh-jauh aku bawa dari Kalimantan. Dengan diikat oleh tali sepatu
yang dipinjamkan oleh Muhsin ketika di Kostnya tadi. Muhsin dengan sukarela
melepaskan tali yang melekat di sepatu Coverse miliknya untuk dipinjamkan
kepadaku.
Sampai-sampai
aku mengatakan,, “jangan Sin itu sepatunya masih bagus”!!!.
Muhsin
menjawab, “Gak apa-apa Mam”...!!!!!
Dalam
benakku, “aku merasa tidak enak hati dengan Muhsin”.
Tali sepatu yang dipinjamkan oleh
Muhsin aku ikatkan di sarung parang Mandau dan kemudian aku mengikat parang
mandau tersebut di pinggang sebelah kiriku. Kali ini dengan parang mandau yang
melingkar di pinggangku. Mengingatkan aku pada waktu di Kalimantan, tepatnya
pada waktu di kampung, hampir setiap pergi ke kebun atau ke hutan kami
orang-orang suku dayak paser selalu membawa parang mandau yang diikatkan di
pinggang.
****
Perjalanan terus berlanjut, bukit demi
bukit kami telusuri. Di kiri dan kanan jalan aku melihat pohon pinus
berbaris-baris bagaikan orang sedang upacara. Aku merasa ketika melihat pohon
pinus yang banyak ini seperti berada di Kota Bastogne, Belgia. Salah satu kota
yang menjadi tempat pertempuran dashyat antara pasukan tentara Amerika dengan
Jerman ketika perang dunia ke-II.
Kemudian, setelah menghabiskan
beberapa waktu perjalanan, kami pun sampai pada pos bayangan. Albert sudah tiba
lebih dulu daripada kami berlima. Karena memang Albert ketika di perjalanan
tadi, waktu kami beristirahat Albert tetap meneruskan langkahnya.
Albert pada waktu aku sampai pos
bayangan, ia sudah menghamparkan tikar bewarna merah seukuran sejadah. Tikar
ini memang sejak awal perjalanan sudah
dibawa oleh Albert di tas ransel miliknya. Albert pun melanjutkan untuk
melaksanakan Shalat Dzuhur empat rakaat.
Sekitar 10 meter di belakang Pos
bayangan tempat kami beristirahat, ada sebuah sumur mata air yang airnya sangat
jernih. Setelah melepas sepatu yang aku pakai, aku melangkah menuju sumur untuk
mengambil air. Pertama-tama tanganlah yang aku basuh, sungguh terasa sejuk air
di sumur ini.
Setelah antri, selesai Albert dan
Redho shalat dzuhur. Aku pun juga melaksanakan shalat dzuhur. Selesai shalat
aku pun teringat dengan buku catatan harian dan sebuah pulpen yang aku bawa di
dalam tas. Maksud dan tujuan aku membawa buku dan pulpen tidak lain adalah
untuk mencatat bagaimana perjuangan kami untuk mencapai puncak tertinggi gunung
Lawu. Mungkin orang-orang banyak yang suka mendokumentasikan perjalanannya
dengan berfhoto atau pun direkam dengan Video. Tapi bagiku perjalanan akan
lebih indah dan berkesan ketika perjalanan tersebut dicatat di dalam sebuah
tulisan.
Baru sekitar tiga baris menulis,
tinta pulpen yang aku pakai menulis ternyata telah habis. Memang ketika aku
memasukkan pulpen di tas pada waktu masih di Kontrakan Komisariat HMI FH UII.
Aku tidak terlebih dahulu mengecek pulpen tersebut. aku hanya berasumsi pulpen
yang aku bawa ini masih bagus dan tintahnya masih cukup untuk digunakan
menulis. Aku pun sedikit bingung dan gusar karena satu senjata yang sangat
penting sebagai modalku menulis ketika di gunung tidak bisa digunakan.
Satu-persatu mereka aku tanyakan? Mulai dari Said, Muhsin, Albert, Fahmi dan
Redho. Mereka pun tidak ada yang menbawa pulpen mendaki gunung.
Dengan sedikit rasa kecewa aku
melanjutkan perjelanan dari pos bayangan menuju kearah pos 1. Setelah beberapa
menit perjalanan Muhsin menanyakan kepada kami?
“Ada yang bawa kopi gak??,” Tanya Muhsin kepada kami.
Albert
pun menjawab, “aku bawa kopi sekitar 8 bungkus!!!!!!!!!!
Aku
terus berjalan, semetara ketika aku menegok ke belakang, aku lihat Fahmi dan
Muhsin berhenti sejenak dibelakangku. Lalu setelah aku menengok kembali ke
belakang, ternyata hanya ada Fahmi sendiri.
Kemudian
aku berhenti dan bertanya kepada Fahmi? “Dimana Muhsin??”
“Muhsin
kembali mas, dia mau beli kopi di
bawah,” jawab Fahmi.
Aku
pun begegas berlari kembali ke belakang dengan maksud menyusul Muhsin. Tidak
lain maksudku mengejar Muhsin adalah untuk menitip kepada Muhsin agar dia
membelikan pulpen. Setelah aku berlari dan tepat tiba di atas bukit, aku
mencoba untuk berteriak,
“Muuuhhhhhhsiiiin,
Muuuuhhhsiin,” teriakku memanggil Muhsin.
Dan
ternyata terdengar olehku sayup-sayup suara dari kejahuan yang tidak lain
adalah suara Muhsin menjawab, “Yaaaaa!”
Aku
lanjut berteriak kembali, “Siiinn saya titip pulpen ya!!!!”
Dan
Muhsin pun menjawab, “Oke Mam.”
Mendengar
jawaban Muhsin hatiku terasa lega, karena aku merasa aku kembali mempunyai harapan
yang besar untuk menulis catatan perjuangan kami dalam mendaki puncak Lawu.
****
Jalan
yang penuh dengan bebatuan membuat kami harus ekstra hati-hati agar tidak
tersandung batu atau pun terpleset karena batu yang licin. Beberapa kali
diantara kami beristirahat dan duduk sejenak untuk mengumpulkan tenaga. tetapi
yang ada di pikiranku, “ini belum apa-apa, perjalanan masih panjang.”
Said
berkali-kali mengeluh karena kelelahan. Tetapi meskipun kelelahan Said tetap
riang dan ceria. Ada-ada saja canda dan perkataan lucu yang keluar dari mulut
Said. Salah satu guyonan said adalah,
“Semua hewan berkaki empat halal, kecuali kursi. Itu pun karena keras.” Kata
Said dengan meniru logat Ambon.
Aku
yang berada di belakang Said pun tertawa mendengar guyonan darinya. Dalam
benakku, “ada-ada saja Said ini, hehehe”
Setelah
tiba di dekat batu besar kami berlima minus Muhsin, beristirahat diatas batu
tersebut. Said tampak membuka sebuah roti biskuit coklat. Berdua bersama Fahmi
Said memakan roti tersebut dan menawarkan biskuit tersebut kepadaku. Aku pun
mencicipi biskuit yang ditawarkan oleh Said kepadaku. Aku merasa sangat nikmat
sekali biskuit ini ketika dimakan disini. Disaat rasa lelah mulai mendera,
energi coklat dari biskuit tersebut dapat membangkitkan stamina.
Ketika
merasa cukup beristirahat, kami berlima pun melanjutkan perjalanan kami. batu
demi batu kami langkahi, gunung demi gunung kami susuri, dan akhirnya tidak
terasa telah tampak dari kejahuan atap seng pos 1. Kami berlima pun sampai dan
beristirahat di Pos 1. Kemudian tak lama, ketika kami beristirahat di Pos 1
Muhsin akhirnya datang membawa sebungkus plastik di tangannya. Bungkus yang
berisi kopi. Tetapi ternyata pulpen yang aku pesan kepada muhsin tidak ada.
Tampaknya warung-warung yang berada disekitar basecame Cemara Sewu tidak ada yang menjual pulpen.
Tepat
di depan Pos 1 ada sebuah warung yang menjual makanan, aku berpikir, “sapa tau
ada jual pulpen tuh warung?”
Muhsin
masuk ke dalam warung dan ternyata ketika dia keluar, Muhsin membawakanku
sebuah pulpen bewarna hitam. Sembari mengambil pulpen yang dibawakan Muhsin,
Aku
berkata, “Alhamdulillah.”
Aku sangat bersyukur, akhirnya
keinginanku untuk mencatatkan proses perjuangan kami mendaki gunung bisa tetap
dilakukan. Tintah pun kembali aku goreskan di dalam kertas buku catatan. Kata demi
kata pun terus tertulis menghitami kertas putih di buku catatan.
Albert
dan Redho tampak memanfaatkan waktu istirahat kami untuk memjamkan mata
sejenak. Said sendiri sedang berada di warung depan Pos 1 sembari mengobrol
bersama pendaki lain. Entah aku tidak tau apa yang diobrolkan oleh Said, yang
jelas ketika Fahmi menanyakan? Said hanya menjawab, “lagi kuliah tiga SKS.” Aku
pun hanya terdiam dan bingung mendengar jawaban Said dari dalam warung,
“Entahlah”????????
****
Jarak
antara Pos 1 dengan pos 2 ternyata
sangat jauh. Berkali-kali sepanjang perjalanan kami menjumpai pendaki-pendaki
lain yang sudah turun. Ketika berselisih denganku, para pendaki lain selalu
melihat benda yang terikat di pinggangku. Yaitu parang mandau yang aku bawa.
Entah kagum atau mungkin aneh dengan yang aku bawa, karena sepanjang perjalanan
aku melihat tidak ada pendaki-pendaki lain yang membawa senjata sebesar parang
mandau milikku. Dikarenakan juga gunung Lawu ini relatif ramai dikunjungi para
pendaki. Di puncak tertinggi pun bahkan ada warung dan tempat penginapan.
Albert
kembali lebih dulu sampai di Pos 2 dan diikuti oleh aku. Setelah beristirahat
sejenak bersamaku Albert berpamitan untuk melanjutkan perjanan menuju Pos 3
duluan. Cukup lama aku sendiri di pos 2 sambil duduk di sebuah batu dan sambil
memakan Biskuit yang diberikan Said kepadaku tadi.
Sebelum
sampai di Pos 3 diantara kami berenam yang sepertinya paling kelelahan adalah
Said. Makanya Said mengajakku untuk menemaninya jalan paling belakang saja,
sembari bisa beristirahat dan bisa sambil mengobrol denganku. Said pun
bercerita banyak mulai dari kuliah, organisasi, sampai hal-hal “cinta”
kepadaku.
Dikarenakan
hari sudah menjelang sore dan mentari pun kian meninggi. Kami memutuskan tidak
melanjutkan perjalanan malam hari. Dikarenakan juga kami cukup kelelahan
berjalan sekitar enam jam perjalanan hingga sampai di pos 3. Maka kami berenam
memutuskan untuk memasang tenda tempat menginap di Pos 3.
Diantara
kami Muhsin, Fahmi, dan Albertlah yang sangat cekatan memasang tenda dan
mempersiapkan segala peralatan untuk kami menginap. Sementara Said kembali
seperti sebelum-sebelumnya, yaitu tidak melewatkan momen-momen perjalanan kami
dengan berfhoto. Redho pun berkali-kali memfhoto Said. Tidak lupa juga Redho
dan Said bertukaran, Said yang Memfhoto Redho yang di Fhoto.
****
Akhirnya
setelah semua tenda dan alas untuk tempat kami menginap sudah tepasang semua.
Kami mengumpul bekal makanan yang kami bawa. Dari dua tenda tempat kami
menginap terkumpul cukup banyak makanan. Aku melihat untuk pendakian bekal
makanan yang hanya untuk sekitar dua hari. Bekal yang kami bawa sudah lebih
dari cukup. Makanan yang kami bawa terdiri dari berbagai macam yang
diantaranya, Mie instan, telur, Air mineral, biscuit, bumbu makanan, kopi,
susu, serta coklat dan snack. Tidak lupa juga ternyata Said membawa roti tawar
lenkap beserta coklat untuk membuat roti bakar.
Koki
kami pun beraksi, dengan terampil ia mempersiapkan segala peralatan memasak,
mulai dari kompor, templon, piring, hingga sendok. Koki kami tidak lain adalah
Muhsin dan Fahmi. aku melihat tampaknya Muhsin dan Fahmi ini sangat
berpengalaman dalam pendakian gunung. Karena peralatan yang mereka bawa berdua
aku lihat sudah cukup komplit. Muhsin memanaskan air untuk merebus mie dan
Fahmi sibuk membuka bungkus mie instan serta menaburi bumbunya di atas piring.
Setelah
bahan makanan sudah dimasak dan lengkap akhirnya kami berenam pun makan
bersama-sama di dalam tenda. Di tambah dengan segelas kopi panas aku marasa
betapa nikmat makan malam kami di atas
gunung Lawu.
Sesudah
selesai makan kami berenam pun beristirahat. Sambil mengenakan sleping bad aku berbaring di dalam
tenda. Ada Fahmi dan Muhsin di tenda bersamaku, sedangkan Redho, Albert dan
Said berada di tenda di depan tenda kami. Baru beberapa Saat aku memejamkan
mata, aku merasa, “kok di kepalaku
seperti ada air.” Ternyata hujan telah turun dengan lebatnya menerjang tenda
kami. Tenda kami pun tidak sanggup menahan air hujan, hingga air hujan masuk
dari sisi samping tenda kami. Semua penghuni tenda pun bergegas menyelamatkan
barang-barang agar tidak basah terkena air hujan.
Setelah
merasa tidak tahan karena seluruh isi tenda sudah basah terkena air hujan. Aku,
Muhsin dan Fahmi memutuskan untuk menggeser letak tenda kami ke tempat yang
sedikit lebih tinggi. Dengan pakaian yang basah karena terguyur hujan kami
bertiga menggeser letak tenda. Aku membantu mengeluarkan barang, sedangkan
Fahmi, mengelap alas tenda yang telah basah. Muhsin pun mengencangkan segala
ikatan tendan yang baru dipasang lagi. Tak lama setelah itu Said keluar dari
tenda sebelah, ia tidak tahan terkena basah di dalam tenda. Sedangkan Albert
dan Redho sudah tertidur pulas di dalam tenda. Mereka berdua sudah tidak peduli
lagi dengan air yang masuk di dalam tenda.
Begitu
tenda sudah selesai dan bisa digunakan untuk beristirahat, kami bertiga pun
kembali masuk ke dalam tenda. Tetapi, kali ini Said ikut di tenda kami. jadi
total di dalam tenda kami menjadi berempat bersama Said. Malam terus larut
perlahan-lahan hujan mulai mereda dan akhirnya pun kami sudah dapat tidur
meskipun dinginnya udara sangat menusuk kulit dan mengigit tulang.
****
Pagi-pagi
aku bangun tidur, tampak Muhsin dan Fahmi sudah bangun terlebih dahulu. Mereka
berdua sedang menikmati udara pagi. Setelah beberapa saat kemudian Muhsin, dan
Fahmi yang menjadi koki kami kembali mempersiapkan sarapan untuk kami berenam. Kami
berenam pun sarapan dengan menu, mie rebus dan juga roti bakar.
Hari
ini kami berencana akan melanjutkan perjalanan untuk menggapai puncak gunung
Lawu. Puncak idaman yang menjadi tujuan kami dalam pendakian ini. Puncak yang
nantinya sang hijau hitam akan kami kibarkan. Tetapi sayang, ternyata Said
mengatakan kepada kami kalau ia sudah tidak sanggup lagi untuk melanjutkan
perjalanan ke puncak. Said sudak sangat kelelahan dam perjalanan mencapai pos 3
ini. Sehingga Said memilih hanya untuk tinggal di pos 3 sembari menjaga tenda
dan peralatan-peralatan kami.
Aku,
Redho, Fahmi dan Muhsin berangkat terlebih dahulu. Albert mengatakan akan
menyusul kami dari belakang.
Perlahan-lahan
langkah kaki trus melangkah dan tidak terasa pos 4 sudah aku singgahi. Redho
dan Fahmi tidak melewatkan pos 4 begitu saja dengan berfhoto. Memang
pemandangan pagi dari pos 4 ini sangat indah. Kami bagaikan berada di atas
awan, hamparan pegunungan terhampar di depan mata kami. Dari kejahuan pun
tampak perkebunan dan rumah-rumah warga.
Tidak
lama dari Pos 4 akhirnya kami sampai pada pos 5. Medan jalan dari pos 5 sudah
mulai mudah karena jalan relatif datar hingga tidak lama pun kami sampat di
warung Mbok Yem. Tampak pendaki,
cukup banyak yang berkumpul di warung mbok
Yem. Ada yang sedang makan dan ada pula yang sedang beristirahat. Aku, Muhsin,
Redho, dan Fahmi pun beristirahat tidak jauh dari warung mbok Yem. Setelah beberapa lama beristirahat Albert pun datang
menyusul kami.
Puncak
tertinggi gunung Lawu sudah berada di depan mata, kami pun kian bersemangat
untuk melanjutkan perjalanan yang sudah hanya tinggal sedikit.
Ketika
sudah sedikit lagi mencapai puncak, Albert, Musin, Fahmi dan Redho memilih
untuk beristirahat sejenak. Diantara mereka memilih untuk merokok sejenak.
Tetapi aku sendiri tetap melanjutkan perjalanan.
Dibalik
rerimbunan pohon akhirnya aku melihat tugu yang menandakan puncak gunung lawu.
Tugu bercat warna hitam yang tingginya kurang lebih 10 m dan atasnya berada
bendera merah putih. Pada saat sampai aku langsung memegan tugu tersebut
sebagai tanda aku sudah mencapai puncak tertinggi gunung Lawu. Yang menjadi
kebanggaan tertinggiku adalah diatara kami berenam yang mendaki akulah yang
pertama kali mencapai puncak. Aku pun dapat melihat indahnya alam dari puncak
tertinggi gunung Lawu, dan aku juga merasa di atas awan.
Beberapa
Saat kemudian Musin dan Fahmi juga sampai di puncak dan kemudian disusul oleh
Albert dan Redho. Kami pun memasang berdera HMI di Tiang yang memang disediakan
di puncak. bendera HMI tersebut memang sebelumnya aku bawa di dalam tas
ranselku.
Akhirnya
pun bendera HMI yaitu sang ‘Hijau hitam’ berkibar dengan gagahnya di puncak
tertinggi gunung Lawu. Kami berlima juga tidak lupa mengemakan lagu ‘Mars Hijau
hitam’ menemani bendera yang sudah lebih dulu berkibar. Yang ada dibenakku
adalah, “Alhamdulliah akhirnya sang
hijau hitam berkibar di puncak tertinggi gunung lawu, dan semoga juga HMI dapat
mencapai puncak perjuangannya.” Amieen.