Minggu, 02 Februari 2014

Berkibarnya Sang Hijau Hitam di Puncak Gunung Lawu

Oleh: Nur Rachmansyah

Menjelang sebelum waktu shalat shubuh, aku terkaget karena terbangun dari mimpiku. Tampaknya Redho membangunkanku. Redho mengingatkanku kalau pagi-pagi kami sudah harus berangkat mendaki gunung. Mendaki gunung sebenarnya tampak familiar di telingaku. Karena sering diceritakan oleh teman-temanku bagaimana suasana ketika mendaki gunung. Tetapi aku sendiri belum pernah merasakan bagaimana rasanya mendaki gunung. Yang aku ketahui ketika mendaki gunung, biasanya tidak bisa dipisahkan dengan hutan, karena sebagian besar gunung di Indonesia selalu diselimuti oleh hutan. Sebenarnya kalau berbicara hutan tidaklah asing bagi diriku, karena aku sendiri berasal dari Pulau Kalimantan yang masih sangat banyak hutannya.
Gunung yang akan kami daki adalah gunung Lawu, yaitu gunung yang berada tepatnya di perbatasan antara Kabupaten Karanganyar (Jawa Tengah) dengan kabupaten Magetan (Jawa Timur).
Kemudian setelah aku dibagunkan oleh Redho. Redho bertanya, “Bagaimana Perbekalan Imam[1]?”
Aku menjawab, “ Belum Do...!!!” “Ayo temanin saya beli!” lanjutku.
Kemudian aku bersama-sama Redho dengan menggunakan sepeda motor Mio bewarna putih milik Dolly Setiawan. Kami bergegas menuju Indomaret yang tidak jauh dari kontrakan Komisariat HMI FH UII, tepatnya di pertigaan Jalan Golo. Sesampainya di depan Indomaret aku memarkir motor di depan Pintu Indomaret. Tidak lupa juga aku membawa helm masuk ke dalam serta meletakkan tepat di depan meja kasir. Aku dan Redho kemudian mencari bahan-bahan makanan untuk bekal kami mendaki gunung. Bahan makanan yang pertama kami cari adalah mie Instan. Awalnya Redho ingin megambih mie ‘Sedap’ Goreng, tapi aku mengatakan. “Lebih baik Mie yang ini!!!” sambil tanganku mengambil mie kare Spesial. Aku berpikir daripada membawa mie goreng akan lebih baik membawa mie yang mengandung kuah. Selain karena porsinya lebih banyak daripada mie goreng karena ditambah kuah. Kuah kare yang ketika diberi cabe nantinya juga akan membantu menghangatkan perut. Mengingat cuaca di gunung sangatlah dingin.
Setelah selesai membeli makanan sebagai bekal. Aku dan Redho beranjak menuju warung Burjo yang letaknya tepat di belakang Indomaret tempat kami berbelanja. Burjo ini juga biasa dikatakan sebagai Burjo Jalan Golo. Aku dan Redho memesan dua piring Nasi Telur ditambah dua gelas air hangat.
Sehabis mengisi perut di Burjo, aku dan Redho menuju kost Muhsin. Setibanya kami di kost Muhsin, ternyata di Kost Muhsin ada Albert dan Muhsin yang sepertinya mereka baru bangun tidur. Tampaknya mereka juga sedang mempersiapkan peralatan pendakian. Mulai dari tenda, tikar, tas, peralatan masak, serta bahan-bahan makanan lainnya. Setelah menyapaku yang baru datang, Albert menuju kamar mandi untuk mandi. Redho pun turut mengecek peralatan yang sudah disiapkan oleh Muhsin.
Aku dan Redho pun kembali ke kontrakan Komisariat HMI FH UII untuk mempersiapkan peralatan yang akan kami bawa mendaki. Tidak lupa juga untuk mandi. Tidak banyak pakaian yang aku bawa, hanya sebuah baju jersey Barcelona yang aku kenakan, celana training dan dua buah jaket yang lumayan tebal. Aku juga tidak lupa untuk memasukkan bahan-bahan makanan yang telah aku beli bersama Redho ke dalam tas ransel.
Selesai mandi dan berkemas-kemas aku dan Redho menuju ke Kost Muhsin. Ternyata di Kost Muhsin sudah ada, Muhsin, Albert, Fahmi dan Said. Pada saat aku tiba, Said sedang berfhoto-fhoto sembari mengenakan Celana pendek, baju singlet Hitam dan sudah memakai sepatu. Penampilan Said tampak keren sekali mengenakan dress cort tersebut, apalagi ditambah slayer Hisbulaton[2] yang melingkar di kepala Said. Said juga tampak sangat antusias persiapan perjalanan kami. Maka yang menjadi tim pendakian kami terdiri enam orang yaitu, Aku, Redho, Albert, Muhsin, Fahmi dan Said.
Setelah segala peralatan pendakian sudah lengkap dan telah disiapkan. Kami berenam mengambil dan menyalakan kendaraan. Kami menggunakan tiga buah sepeda motor untuk saling berboncengan. Aku berboncengan dengan Redho, Muhsin berboncengan dengan Fahmi, dan Albert berboncengan dengan Said. Kemudian kami pun berangkat bersama-sama secara beriringan.
Dalam perjalanan tepatnya di jalan Taman Siswa depan Hotel Wisanti yang masih tidak jauh dari Kost Muhsin. Aku mengingat-ngingat apakah masih ada barang yang tertinggal? Aku pun bertanya kepada Redho?
“Do bendera HMI sudah dibawa blom?”
“Wah, lupa mam” jawab Redho.
Redho pun langsung melanjutkan perkataan, “Ayo kita balik aja Mam, kita ambil bendera HMI...!!!”
            Awalnya aku ragu untuk kembali, karena aku pikir apabila kembali akan membuang-buang waktu perjalanan kami saja. Tapi kemudian aku mengingat betapa pentingnya bendera HMI untuk dibawa. Bendera yang nantinya akan mengukir sejarah di puncak tertinggi gunung Lawu. Tanpa bendera HMI, perjalanan ke puncak lawu, bagiku akan sia-sia. Karena misi utamaku adalah mengibarkan ‘Sang Hijau Hitam’ di puncak tertingi gunung Lawu. Aku pun memutuskan untuk memutar motor kembali menuju rumah perjuangan HMI FH UII dengan tujuan mengambil bendera.
****
Setelah perjalanan kurang lebih sekitar 2 ½ jam dari Jogja akhirnya kami berenam sampai di daerah Magetan perbatasan dengan Karanganyar. Sepanjang perjalanan kami melintasi beberapa daerah yang terdiri dari, Klaten, Boyolali, Solo, Karanganyar dan terakhir Magetan. Satu hal yang menarik perhatianku ketika kami melewati daerah Karanganyar. Bupati Karanganyar adalah seorang perempuan, dan yang menarik adalah hampir seluruh wilayah Karanganyar yang kami lewati. Baliho dan spanduk yang ada sangat banyak terpampang fhoto Bupati tersebut. yang menjadi pertanyaan dibenakku “ini Bupati atau Fhoto model, Kok banyak banget fhotonya....?”
Sebenarnya tidak masalah seorang kepala daerah memasang baliho atau sepanduk yang ada fhoto dirinya. Karena pemasangan fhoto adalah bagian dari pencitraan kepala daerah kepada rakyatnya. Tetapi apabila berlibihan juga tidak baik karena akan menjadi narsis.
Di Karanganyar, tepatnya di daerah Tawangmangu jalanannya terdiri dari tanjakan-tanjakan yang sangat tinggi. Sehingga motor kami pun mengalami kesulitan untuk melewatinya. Tetapi yang sangat menakjubkan adalah pemandangan daerah Tawangmangu. Hamparan perkebunan menyelimuti bukit-bukit, berbagai tanaman buah-buahan dan sayur mayur menghiasi petak demi petak tanah yang ada di bukit. Rumah-rumah warga berjajar dengan rapi di sepanjang jalan. Kami pun banyak menjumpai para petani yang sedang beraktifitas. Tampaknya sebagian besar penduduk  berprofesi sebagai petani. Daerah Tawangmangu ini mengingatkan aku pada desa-desa yang tergambarkan di dalam buku pelajaran Bahasa Indonesia ketika aku masih duduk di bangku SD. Yang ada di benakku “betapa Indahnya Tawangmangu, udara dingin nan sejuk dihiasi dengan indahnya pemandangan alam....!!!!”
Sesampainya di basecame Cemara Sewu, kami langsung memarkir motor, dan beberapa dari kami  mendaftarkan administrasi pada petugas yang berjaga di Gerbang basecame. Kami pun beristirahat sejenak di basecame Cemara Sewu. Aku dan Redho langsung menuju warung yang ada di samping basecame. Kami memesan dua buah nasi rames dan dua gelas kopi hitam. Tidak lama ketika kami makan, Albert datang dan memesan nasi rames sama seperti yaang aku pesan bersama Redho. Di depanku ada sebuah toples yang berisi kerupuk, dan aku pun mengambil kerupuk yang ada di dalam toples tersebut. ternyata rasa kerupuknya cukup lezat.
Sampai-sampai aku berkata kepada Albert, “Bert, bagaimana kalau toples kerupuk ini kita bawa aja ke Gunung, hehe”!!!!!
Albert pun hanya tertawa, “hehehe.”
Kemudian setelah makan, Albert memesan tiga bungkus nasi putih untuk dibawa sebagai bekal pendakian.
****
Perjalanan pendakian kami pun dimulai. Redho berada pada posisi paling depan dan diikuti oleh Albert di belakang Redho. Said tidak melewatkan Start perjalanan kami dengan berfhoto. Terhitung berkali-kali Said di Fhoto oleh Fahmi yang memegang kamera. Tidak lupa juga Said mengajakku untuk berfhoto bersama
“Bang Fhoto bareng lah kita,,!!!! Ujar Said kepadaku.
Ok ok, “jawabku.”
Aku pun kemudian berfhoto bersama Said.
Melihat Said berkali-kali berfhoto, akhirnya Albert juga tertarik untuk ikut berfhoto-fhoto bersama aku dan Said.
Ketika perjalanan kami agak mulai jauh dari Basecame Cemara Sewu. Akhirnya aku mengeluarkan senjataku. Yaitu parang Mandau yang memang telah jauh-jauh aku bawa dari Kalimantan. Dengan diikat oleh tali sepatu yang dipinjamkan oleh Muhsin ketika di Kostnya tadi. Muhsin dengan sukarela melepaskan tali yang melekat di sepatu Coverse miliknya untuk dipinjamkan kepadaku.
Sampai-sampai aku mengatakan,, “jangan Sin itu sepatunya masih bagus”!!!.
Muhsin menjawab, “Gak apa-apa Mam”...!!!!!
Dalam benakku, “aku merasa tidak enak hati dengan Muhsin”.
            Tali sepatu yang dipinjamkan oleh Muhsin aku ikatkan di sarung parang Mandau dan kemudian aku mengikat parang mandau tersebut di pinggang sebelah kiriku. Kali ini dengan parang mandau yang melingkar di pinggangku. Mengingatkan aku pada waktu di Kalimantan, tepatnya pada waktu di kampung, hampir setiap pergi ke kebun atau ke hutan kami orang-orang suku dayak paser selalu membawa parang mandau yang diikatkan di pinggang.
****
            Perjalanan terus berlanjut, bukit demi bukit kami telusuri. Di kiri dan kanan jalan aku melihat pohon pinus berbaris-baris bagaikan orang sedang upacara. Aku merasa ketika melihat pohon pinus yang banyak ini seperti berada di Kota Bastogne, Belgia. Salah satu kota yang menjadi tempat pertempuran dashyat antara pasukan tentara Amerika dengan Jerman ketika perang dunia ke-II.
            Kemudian, setelah menghabiskan beberapa waktu perjalanan, kami pun sampai pada pos bayangan. Albert sudah tiba lebih dulu daripada kami berlima. Karena memang Albert ketika di perjalanan tadi, waktu kami beristirahat Albert tetap meneruskan langkahnya.
            Albert pada waktu aku sampai pos bayangan, ia sudah menghamparkan tikar bewarna merah seukuran sejadah. Tikar ini memang sejak awal perjalanan  sudah dibawa oleh Albert di tas ransel miliknya. Albert pun melanjutkan untuk melaksanakan Shalat Dzuhur empat rakaat.
            Sekitar 10 meter di belakang Pos bayangan tempat kami beristirahat, ada sebuah sumur mata air yang airnya sangat jernih. Setelah melepas sepatu yang aku pakai, aku melangkah menuju sumur untuk mengambil air. Pertama-tama tanganlah yang aku basuh, sungguh terasa sejuk air di sumur ini.
            Setelah antri, selesai Albert dan Redho shalat dzuhur. Aku pun juga melaksanakan shalat dzuhur. Selesai shalat aku pun teringat dengan buku catatan harian dan sebuah pulpen yang aku bawa di dalam tas. Maksud dan tujuan aku membawa buku dan pulpen tidak lain adalah untuk mencatat bagaimana perjuangan kami untuk mencapai puncak tertinggi gunung Lawu. Mungkin orang-orang banyak yang suka mendokumentasikan perjalanannya dengan berfhoto atau pun direkam dengan Video. Tapi bagiku perjalanan akan lebih indah dan berkesan ketika perjalanan tersebut dicatat di dalam sebuah tulisan.
            Baru sekitar tiga baris menulis, tinta pulpen yang aku pakai menulis ternyata telah habis. Memang ketika aku memasukkan pulpen di tas pada waktu masih di Kontrakan Komisariat HMI FH UII. Aku tidak terlebih dahulu mengecek pulpen tersebut. aku hanya berasumsi pulpen yang aku bawa ini masih bagus dan tintahnya masih cukup untuk digunakan menulis. Aku pun sedikit bingung dan gusar karena satu senjata yang sangat penting sebagai modalku menulis ketika di gunung tidak bisa digunakan. Satu-persatu mereka aku tanyakan? Mulai dari Said, Muhsin, Albert, Fahmi dan Redho. Mereka pun tidak ada yang menbawa pulpen mendaki gunung.
            Dengan sedikit rasa kecewa aku melanjutkan perjelanan dari pos bayangan menuju kearah pos 1. Setelah beberapa menit perjalanan Muhsin menanyakan kepada kami?
            “Ada yang bawa kopi gak??,” Tanya Muhsin kepada kami.
Albert pun menjawab, “aku bawa kopi sekitar 8 bungkus!!!!!!!!!!
Aku terus berjalan, semetara ketika aku menegok ke belakang, aku lihat Fahmi dan Muhsin berhenti sejenak dibelakangku. Lalu setelah aku menengok kembali ke belakang, ternyata hanya ada Fahmi sendiri.
Kemudian aku berhenti dan bertanya kepada Fahmi? “Dimana Muhsin??”
“Muhsin kembali mas, dia mau beli kopi di bawah,” jawab Fahmi.
Aku pun begegas berlari kembali ke belakang dengan maksud menyusul Muhsin. Tidak lain maksudku mengejar Muhsin adalah untuk menitip kepada Muhsin agar dia membelikan pulpen. Setelah aku berlari dan tepat tiba di atas bukit, aku mencoba untuk berteriak,
“Muuuhhhhhhsiiiin, Muuuuhhhsiin,” teriakku memanggil Muhsin.
Dan ternyata terdengar olehku sayup-sayup suara dari kejahuan yang tidak lain adalah suara Muhsin menjawab, “Yaaaaa!”
Aku lanjut berteriak kembali, “Siiinn saya titip pulpen ya!!!!”
Dan Muhsin pun menjawab, “Oke Mam.”
Mendengar jawaban Muhsin hatiku terasa lega, karena aku merasa aku kembali mempunyai harapan yang besar untuk menulis catatan perjuangan kami dalam mendaki puncak Lawu.
****
Jalan yang penuh dengan bebatuan membuat kami harus ekstra hati-hati agar tidak tersandung batu atau pun terpleset karena batu yang licin. Beberapa kali diantara kami beristirahat dan duduk sejenak untuk mengumpulkan tenaga. tetapi yang ada di pikiranku, “ini belum apa-apa, perjalanan masih panjang.”
Said berkali-kali mengeluh karena kelelahan. Tetapi meskipun kelelahan Said tetap riang dan ceria. Ada-ada saja canda dan perkataan lucu yang keluar dari mulut Said. Salah satu guyonan said adalah, “Semua hewan berkaki empat halal, kecuali kursi. Itu pun karena keras.” Kata Said dengan meniru logat Ambon.
Aku yang berada di belakang Said pun tertawa mendengar guyonan darinya. Dalam benakku, “ada-ada saja Said ini, hehehe”
Setelah tiba di dekat batu besar kami berlima minus Muhsin, beristirahat diatas batu tersebut. Said tampak membuka sebuah roti biskuit coklat. Berdua bersama Fahmi Said memakan roti tersebut dan menawarkan biskuit tersebut kepadaku. Aku pun mencicipi biskuit yang ditawarkan oleh Said kepadaku. Aku merasa sangat nikmat sekali biskuit ini ketika dimakan disini. Disaat rasa lelah mulai mendera, energi coklat dari biskuit tersebut dapat membangkitkan stamina.
Ketika merasa cukup beristirahat, kami berlima pun melanjutkan perjalanan kami. batu demi batu kami langkahi, gunung demi gunung kami susuri, dan akhirnya tidak terasa telah tampak dari kejahuan atap seng pos 1. Kami berlima pun sampai dan beristirahat di Pos 1. Kemudian tak lama, ketika kami beristirahat di Pos 1 Muhsin akhirnya datang membawa sebungkus plastik di tangannya. Bungkus yang berisi kopi. Tetapi ternyata pulpen yang aku pesan kepada muhsin tidak ada. Tampaknya warung-warung yang berada disekitar basecame Cemara Sewu tidak ada yang menjual pulpen.
Tepat di depan Pos 1 ada sebuah warung yang menjual makanan, aku berpikir, “sapa tau ada jual pulpen tuh warung?”
Muhsin masuk ke dalam warung dan ternyata ketika dia keluar, Muhsin membawakanku sebuah pulpen bewarna hitam. Sembari mengambil pulpen yang dibawakan Muhsin,
Aku berkata, “Alhamdulillah.”
            Aku sangat bersyukur, akhirnya keinginanku untuk mencatatkan proses perjuangan kami mendaki gunung bisa tetap dilakukan. Tintah pun kembali aku goreskan di dalam kertas buku catatan. Kata demi kata pun terus tertulis menghitami kertas putih di buku catatan.
Albert dan Redho tampak memanfaatkan waktu istirahat kami untuk memjamkan mata sejenak. Said sendiri sedang berada di warung depan Pos 1 sembari mengobrol bersama pendaki lain. Entah aku tidak tau apa yang diobrolkan oleh Said, yang jelas ketika Fahmi menanyakan? Said hanya menjawab, “lagi kuliah tiga SKS.” Aku pun hanya terdiam dan bingung mendengar jawaban Said dari dalam warung,
 “Entahlah”????????
****
Jarak antara  Pos 1 dengan pos 2 ternyata sangat jauh. Berkali-kali sepanjang perjalanan kami menjumpai pendaki-pendaki lain yang sudah turun. Ketika berselisih denganku, para pendaki lain selalu melihat benda yang terikat di pinggangku. Yaitu parang mandau yang aku bawa. Entah kagum atau mungkin aneh dengan yang aku bawa, karena sepanjang perjalanan aku melihat tidak ada pendaki-pendaki lain yang membawa senjata sebesar parang mandau milikku. Dikarenakan juga gunung Lawu ini relatif ramai dikunjungi para pendaki. Di puncak tertinggi pun bahkan ada warung dan tempat penginapan.
Albert kembali lebih dulu sampai di Pos 2 dan diikuti oleh aku. Setelah beristirahat sejenak bersamaku Albert berpamitan untuk melanjutkan perjanan menuju Pos 3 duluan. Cukup lama aku sendiri di pos 2 sambil duduk di sebuah batu dan sambil memakan Biskuit yang diberikan Said kepadaku tadi.
Sebelum sampai di Pos 3 diantara kami berenam yang sepertinya paling kelelahan adalah Said. Makanya Said mengajakku untuk menemaninya jalan paling belakang saja, sembari bisa beristirahat dan bisa sambil mengobrol denganku. Said pun bercerita banyak mulai dari kuliah, organisasi, sampai hal-hal “cinta” kepadaku.
Dikarenakan hari sudah menjelang sore dan mentari pun kian meninggi. Kami memutuskan tidak melanjutkan perjalanan malam hari. Dikarenakan juga kami cukup kelelahan berjalan sekitar enam jam perjalanan hingga sampai di pos 3. Maka kami berenam memutuskan untuk memasang tenda tempat menginap di Pos 3.
Diantara kami Muhsin, Fahmi, dan Albertlah yang sangat cekatan memasang tenda dan mempersiapkan segala peralatan untuk kami menginap. Sementara Said kembali seperti sebelum-sebelumnya, yaitu tidak melewatkan momen-momen perjalanan kami dengan berfhoto. Redho pun berkali-kali memfhoto Said. Tidak lupa juga Redho dan Said bertukaran, Said yang Memfhoto Redho yang di Fhoto.
****
Akhirnya setelah semua tenda dan alas untuk tempat kami menginap sudah tepasang semua. Kami mengumpul bekal makanan yang kami bawa. Dari dua tenda tempat kami menginap terkumpul cukup banyak makanan. Aku melihat untuk pendakian bekal makanan yang hanya untuk sekitar dua hari. Bekal yang kami bawa sudah lebih dari cukup. Makanan yang kami bawa terdiri dari berbagai macam yang diantaranya, Mie instan, telur, Air mineral, biscuit, bumbu makanan, kopi, susu, serta coklat dan snack. Tidak lupa juga ternyata Said membawa roti tawar lenkap beserta coklat untuk membuat roti bakar.
Koki kami pun beraksi, dengan terampil ia mempersiapkan segala peralatan memasak, mulai dari kompor, templon, piring, hingga sendok. Koki kami tidak lain adalah Muhsin dan Fahmi. aku melihat tampaknya Muhsin dan Fahmi ini sangat berpengalaman dalam pendakian gunung. Karena peralatan yang mereka bawa berdua aku lihat sudah cukup komplit. Muhsin memanaskan air untuk merebus mie dan Fahmi sibuk membuka bungkus mie instan serta menaburi bumbunya di atas piring.
Setelah bahan makanan sudah dimasak dan lengkap akhirnya kami berenam pun makan bersama-sama di dalam tenda. Di tambah dengan segelas kopi panas aku marasa betapa nikmat  makan malam kami di atas gunung Lawu.
Sesudah selesai makan kami berenam pun beristirahat. Sambil mengenakan sleping bad aku berbaring di dalam tenda. Ada Fahmi dan Muhsin di tenda bersamaku, sedangkan Redho, Albert dan Said berada di tenda di depan tenda kami. Baru beberapa Saat aku memejamkan mata, aku merasa, “kok di kepalaku seperti ada air.” Ternyata hujan telah turun dengan lebatnya menerjang tenda kami. Tenda kami pun tidak sanggup menahan air hujan, hingga air hujan masuk dari sisi samping tenda kami. Semua penghuni tenda pun bergegas menyelamatkan barang-barang agar tidak basah terkena air hujan.
Setelah merasa tidak tahan karena seluruh isi tenda sudah basah terkena air hujan. Aku, Muhsin dan Fahmi memutuskan untuk menggeser letak tenda kami ke tempat yang sedikit lebih tinggi. Dengan pakaian yang basah karena terguyur hujan kami bertiga menggeser letak tenda. Aku membantu mengeluarkan barang, sedangkan Fahmi, mengelap alas tenda yang telah basah. Muhsin pun mengencangkan segala ikatan tendan yang baru dipasang lagi. Tak lama setelah itu Said keluar dari tenda sebelah, ia tidak tahan terkena basah di dalam tenda. Sedangkan Albert dan Redho sudah tertidur pulas di dalam tenda. Mereka berdua sudah tidak peduli lagi dengan air yang masuk di dalam tenda.
Begitu tenda sudah selesai dan bisa digunakan untuk beristirahat, kami bertiga pun kembali masuk ke dalam tenda. Tetapi, kali ini Said ikut di tenda kami. jadi total di dalam tenda kami menjadi berempat bersama Said. Malam terus larut perlahan-lahan hujan mulai mereda dan akhirnya pun kami sudah dapat tidur meskipun dinginnya udara sangat menusuk kulit dan mengigit tulang.
****
Pagi-pagi aku bangun tidur, tampak Muhsin dan Fahmi sudah bangun terlebih dahulu. Mereka berdua sedang menikmati udara pagi. Setelah beberapa saat kemudian Muhsin, dan Fahmi yang menjadi koki kami kembali mempersiapkan sarapan untuk kami berenam. Kami berenam pun sarapan dengan menu, mie rebus dan juga roti bakar.
Hari ini kami berencana akan melanjutkan perjalanan untuk menggapai puncak gunung Lawu. Puncak idaman yang menjadi tujuan kami dalam pendakian ini. Puncak yang nantinya sang hijau hitam akan kami kibarkan. Tetapi sayang, ternyata Said mengatakan kepada kami kalau ia sudah tidak sanggup lagi untuk melanjutkan perjalanan ke puncak. Said sudak sangat kelelahan dam perjalanan mencapai pos 3 ini. Sehingga Said memilih hanya untuk tinggal di pos 3 sembari menjaga tenda dan peralatan-peralatan kami.
Aku, Redho, Fahmi dan Muhsin berangkat terlebih dahulu. Albert mengatakan akan menyusul kami dari belakang.
Perlahan-lahan langkah kaki trus melangkah dan tidak terasa pos 4 sudah aku singgahi. Redho dan Fahmi tidak melewatkan pos 4 begitu saja dengan berfhoto. Memang pemandangan pagi dari pos 4 ini sangat indah. Kami bagaikan berada di atas awan, hamparan pegunungan terhampar di depan mata kami. Dari kejahuan pun tampak perkebunan dan rumah-rumah warga.
Tidak lama dari Pos 4 akhirnya kami sampai pada pos 5. Medan jalan dari pos 5 sudah mulai mudah karena jalan relatif datar hingga tidak lama pun kami sampat di warung Mbok Yem. Tampak pendaki, cukup banyak yang berkumpul di warung mbok Yem. Ada yang sedang makan dan ada pula yang sedang beristirahat. Aku, Muhsin, Redho, dan Fahmi pun beristirahat tidak jauh dari warung mbok Yem. Setelah beberapa lama beristirahat Albert pun datang menyusul kami.
Puncak tertinggi gunung Lawu sudah berada di depan mata, kami pun kian bersemangat untuk melanjutkan perjalanan yang sudah hanya tinggal sedikit.
Ketika sudah sedikit lagi mencapai puncak, Albert, Musin, Fahmi dan Redho memilih untuk beristirahat sejenak. Diantara mereka memilih untuk merokok sejenak. Tetapi aku sendiri tetap melanjutkan perjalanan.
Dibalik rerimbunan pohon akhirnya aku melihat tugu yang menandakan puncak gunung lawu. Tugu bercat warna hitam yang tingginya kurang lebih 10 m dan atasnya berada bendera merah putih. Pada saat sampai aku langsung memegan tugu tersebut sebagai tanda aku sudah mencapai puncak tertinggi gunung Lawu. Yang menjadi kebanggaan tertinggiku adalah diatara kami berenam yang mendaki akulah yang pertama kali mencapai puncak. Aku pun dapat melihat indahnya alam dari puncak tertinggi gunung Lawu, dan aku juga merasa di atas awan.
Beberapa Saat kemudian Musin dan Fahmi juga sampai di puncak dan kemudian disusul oleh Albert dan Redho. Kami pun memasang berdera HMI di Tiang yang memang disediakan di puncak. bendera HMI tersebut memang sebelumnya aku bawa di dalam tas ranselku.
Akhirnya pun bendera HMI yaitu sang ‘Hijau hitam’ berkibar dengan gagahnya di puncak tertinggi gunung Lawu. Kami berlima juga tidak lupa mengemakan lagu ‘Mars Hijau hitam’ menemani bendera yang sudah lebih dulu berkibar. Yang ada dibenakku adalah, “Alhamdulliah akhirnya sang hijau hitam berkibar di puncak tertinggi gunung lawu, dan semoga juga HMI dapat mencapai puncak perjuangannya.” Amieen.



[1] Imam, Panggilan untuk Ketua umum dalam HMI, diartikan sebagai pemimpin.
[2] Slayer Milik Organisasi Hisbulaton Muhammadiyah.