Kamis, 06 Februari 2014

Kenaikan BBM dan Persatuan HMI (Mengenang 67 Tahun HMI)



Oleh: Nur Rachmansyah

Pada pertengahan tahun 2012 Indonesia telah digemparkan oleh isu kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM). Hampir semua Media masa membahas tentang rencana kebijakan pemerintah tersebut. Banyak pengamat politik maupun pengamat ekonomi turut berkomentar terhadap isu kenaikan BBM ini. Baik dari pihak pemerintah, maupun dari pihak yang kontra terhadap kebijakan pemerintah ini, sama-sama memiliki rasionalisasi. Menteri Keuangan Agus Martowardojo, ketika itu memaparkan, sejumlah alasan mengapa harga BBM bersubsidi harus naik. Salah satunya karena ada lonjakkan konsumsi oleh masyarakat. Lonjakan konsumsi ini disebabkan harga BBM bersubsidi di Indonesia yang terbilang murah. Kemudian membuat ketimpangan (disparitas) yang kemudian membuat pemerintah ingin mengoreksi kembali kebijakan subsidi BBM.(tempo.com:2012) Murahnya harga BBM pun mengakibatkan banyaknya penimbunan dan penyelundupan. Inilah yang membuat konsumsi BBM masyarakat melonjak. Masyarakat yang sebenarnya mampu beli BBM nonsubsidi juga tergiur menggunakan BBM bersubsidi karena selisih harga yang amat jauh. Hal tersebut mengakibatkan tidak sehatnya Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
 Dari pihak yang kontra berpendapat dampak dari kenaikan BBM akan menghambat  pertumbuhan ekonomi. Karena akan berdampak pada kenaikan harga barang dan jasa yang terjadi akibat komponen biaya yang naik. Kenaikan harga barang dan jasa dikhawatirkan akan menimbulkan inflasi ekonomi. Tidak bisa dipungkiri memang, BBM merupakan unsur vital dalam proses produksi dan distribusi barang serta dalam bidang jasa.
Kebijakan pemerintah mengenai kenaikan BBM ini, sungguh menyita perhatian hampir semua elemen gerakan, mulai dari mahasiswa, buruh, LSM, bahkan partai politik sekali pun. Terhitung semenjak rencana kenaikan BBM digulirkan oleh pemerintah, aksi demonstrasi terjadi di seluruh penjuru Indonesia.  Bahkan dibeberapa tempat di Daerah, aksi sudah sampai berakhir dengan kericuhan. Tidak terkecuali di Yogyakarta, ketika itu banyak sekali eleman gerakan yang melakukan aksi menolak kenaikan BBM. Hampir setiap harinya, jalanan di sekiitar Malioboro, Kota Yogyakarta dipenuhi oleh para aktivis dari berbagai macam gerakan.
Himpunan Mahasiswa Islam Majelis Penyelamat Organisasi (HMI-MPO) Cabang Yogyakarta juga ketika itu mengambil sikap untuk menolak kenaikan BBM. Ketika itu teman-teman kader dari HMI Kordinator Komisariat (KorKom) Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga. Lebih dahulu mengambil sikap dengan turun aksi ke jalan. Teman-teman dari HMI UIN juga ketika itu mengajak kader-kader dari komisariat lain untuk bergabung bersama mereka. Maka ketika itu cukup banyak kader dari HMI Fakultas Hukum (HMI FH UII) ikut turun aksi dengan teman-teman HMI UIN. Tetapi aksi yang dilakukan oleh teman-teman HMI UIN tidaklah bersama dengan HMI Cabang Yogyakarta. Karena memang secara organisatoris pengurus HMI Cabang Yogyakarta ketika itu belum mengambil sikap dan keputusan terhadap kenaikan BBM.
  Memang secara Internal di HMI Cabang Yogyakarta ketika itu, telah terjadi perbedaan pendapat diantara beberapa komisariat. Ada beberapa komisariat yang kadernya tidak bulat menyepakati tentang penolakan kenaikan BBM. Terutama ialah komisariat-komisariat yang berbasic ekonomi. Yang saya ketahui, alasan perhitungan ekonomi yang membuat teman-teman dari Komisariat Ekonomi menerima kenaikan BBM.
Beberapa kali diskusi diadakan oleh Bidang Kajian Strategis (Kastrat) HMI  Cabang Yogyakarta untuk mendalami dan mengkaji kebijakan pemerintah mengenai kenaikan BBM. Sampai juga saatnya dari Bidang Perguruan Tinggi Kemasyarakatan dan Jaringan (PTKJ) HMI Cabang Yogyakarta mengadakan konsolidasi untuk menolak kenaikan BBM. Dalam konsolidasi, saya yang ketika itu mewakili HMI FH UII, menyampaikan pendapat menolak keras kebijakan pemerintah menaikkan BBM. Karena bagi saya bukanlah masalah hitung-hitungan ekonomi saja yang menjadi pertimbangan dalam mencabut subsidi BBM. Tetapi masalah kemanusiaan, karena tentu apabila BBM benar-benar dinaikkan maka akan berakibat bahan pokok juga akan naik. Ini akan berdampak buruk bagi masyarakat kecil.

Aliansi HMI Dipo dan HMI MPO
Kami pun turun ke jalan melakukan aksi demonstrasi bergabung dengan berbagai organ gerakan lain. Ada beberapa aliansi besar yang menaungi kumpulan gerakan ketika itu, dan yang paling menonjol ada dua. Yang pertama ialah Aliansi Rakyat Menggugat (ARM) dan yang kedua Front Perjuangan Rakyat (FPR). HMI sendiri tergabung dalam FPR, dengan banyak teman-teman dari elemen ‘kiri’ di dalamnya. Ternyata HMI yang tergabung dalam aliansi FPR ini tidak hanya perwakilan dari satu HMI saja. Tidak hanya dari HMI (MPO) saja atau pun dari HMI (Dipo) saja. Tetapi kedua-dua HMI telah bergabung dalam satu aliansi. Sepanjang pengalaman saya di HMI, ini merupakan momentum yang langka. Kedua saudara kandung yang telah lama berpisah dan memiliki stuktur masing-masing mulai dari tingkatan Komisariat sampai Pengurus Besar (PB) bisa bersatu dalam satu aliansi.
Memang telah menjadi rahasia umum dikalangan kader HMI, apabila HMI itu telah terpecah menjadi dua. Ini tidak lepas dari sejarah dan dinamika HMI ketika pada masa pemerintahan Orde Baru yang menerapkan kebijakan ‘asas tunggal’. Di internal HMI ketika itu terjadi perpecahan faksi, antara yang menerima asas tunggal dan yang menolak asas tunggal. Faksi HMI yang menolak asas tunggal kemudian mendeklarasikan dengan nama HMI Majelis Penyelamat Organisasi (HMI MPO). Kemudian faksi HMI yang menerima biasa disebut dengan (HMI Dipo), karena kebetulan sekretariat pusatnya bertempat di Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat.

Ternyata HMI Bisa menyatu
Menjelang puncak aksi dari kenaikan BBM kami dari HMI-MPO ketika itu mengambil keputusan untuk menduduki kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Bersama teman-teman dari Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), HMI-MPO melakukan aksi dari pagi hingga malam di gedung DPRD DIY.
Saya dipertengahan aksi pendudukan gedung DPRD, memutuskan untuk berkeliling Yogyakarta. Dengan maksud melihat titik-titik demonstrasi yang ada di Yogyakarta. Ketika saya menuju ke kampus UIN, ternyata di depan kampus UIN sudah terjadi pemblokiran jalan oleh masa dari Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Kemudian tidak lama setelah saya datang di  UIN, ada segerombolan massa yang baru datang menuju aksi kawan-kawan PMII dan berniat untuk bergabung. Saya melihat massa yang baru datang tersebut membawa atribut HMI. Disitu saya kemudian menyapa salah satu massa aksi yang datang, dan bertanya “dari mana”? Kemudian mereka menjawab berasal dari HMI Korkom UII. Tanpa diberitahu pun saya langsung mengetahui bahwa teman-teman HMI ini berasal dari HMI Dipo.
Sampai pada aksi puncak, kami dari aliansi FPR berkumpul di Abu Bakar Ali dan dan kemudian long mach menuju titik Nol. Sepanjang aksi, semua elemen gerakan menyampai orasinya masing-masing, tidak terkecuali HMI-MPO dan HMI-Dipo. Saya melihat ketika itu massa terbesar ialah berasal dari kedua HMI. Hampir seluruh titik nol itu diwarnai dengan atribut hijau-hitam, warna kebanggaan dari HMI.
Dari aksi tersebut, hal yang paling menarik dan berkesan di hati saya ketika pada saat selesai aksi. dikala elemen gerakan dalam Aliansi, memutuskan untuk membubarkan diri. Tetapi ternyata, koodinator lapangan (korlap) dari HMI-MPO, saudara Reza Vahlevi mengatakan, massa aksi dari HMI untuk tidak membubarkan diri dulu, baik dari HMI-MPO maupun dari HMI-Dipo. Seluruh massa dari kader HMI ketika itu kemudian melakukan doa bersama. Dan dilanjutkan dengan sama-sama menyanyikan hymne HMI. Maka ketika menyanyikan hymne HMI, seluruh kader HMI tidak peduli dari HMI-MPO maupun HMI-Dipo saling berpegangan tangan dan berangkulan. Saya sangat terharu sekali dengan kejadian ini. Akhirnya saya bisa berangkulan dengan saudara yang sebenarnya sama-sama mengalir darah hijau-hitam.
Maka, tidak peduli bagaimana pertentangan struktural antara HMI-MPO dan HMI-Dipo. Tetapi kami secara nyata di Cabang Yogyakarta HMI pernah saling berangkulan bersama. Di hati kecil saya sering bertanya entah kapan HMI akan menyatu? Maka kita semualah sebagai kader HMI yang akan menjawabnya.