Minggu, 02 Februari 2014

Sistem Ketatanegaraan di Vietnam

Oleh: Nur Rachmansyah


Pendahuluan
Vietnam dalam sejarahnya berdiri sejak lebih 4,000 tahun. Namun begitu, sumber-sumber boleh dipercayai yang ada menunjukkan bahawa sejarah Vietnam bermula sejak 2,700 tahun dahulu. Bagi kebanyakan zaman mulai 111 SM hingga abad ke-10, Vietnam diperintah secara langsung oleh dinasti China yang berturut-turut. Vietnam meraih kembali autonominya pada awal abad ke-10, diikuti kemerdekaan sepenuhnya pada tahub 938 M. Sepanjang kebanyakan sejarahnya, Vietnam masih menjadi negara ufti kepada jirannya yang lebih besar iaitu China, dan menolak cubaan berulang oleh China untuk menyatukan semula Vietnam sebagai sebahagian wilayah di bawah pemerintahan diraja secara langsung. Lebih-lebih lagi Vietnam mampu menangkis tiga cubaan serang oleh orang Mongol ketika Dinasti Yuan, apabila China diperintah Mongolia. Namun, raja pada masa itu, Trần Nhân Tông, kemudiannya mengaku dirinya dengan aman sebagai pengufti kepada pemerintah Yuan untuk mengelak konflik daripada berterusan. Zaman kedaulatan ini terhenti pada pertengahan hingga akhir abad ke-19, aapbila negara dijajah oleh Perancis. Ketika Perang Dunia II, Empayar Jepun mengusir pihak Perancis untuk menduduki Vietnam, meskipun pada masa yang sama mengekalkan pentadbir Perancis ketika pendudukannya. Setelah berakhirnya perang, Perancis cuba menguasai semula Vietnam namun akhirnya gagal. Perjanjian Geneva membahagikan negara menjadi dua dengan janji pilihanraya demokratik untuk menyatukan semula negara.[1]
Bagaimanapun, penyatuan semula secara aman tidak menjadi kenyataan, sebaliknya pembahagian ini membawa kepada Perang Vietnam yang, bergantung kepada perspektif individu, merupakan sama ada perang saudara atau sebidang medan pertempuran dalam konflik ideologi sedunia yang berterusan ketika itu, iaitu Perang Dingin. Ketika itu, Vietnam Utara disokong oleh Republik Rakyat China dan Kesatuan Soviet, manakala Vietnam Selatan disokong Amerika Syarikat. setelah berjuta-juta nyawa rakyat Vietnam dan pengunduran pihak Amerika dari Vietnam pada bulan Mac 1973, perang berakhir dengan kejatuhan Saigon ke tangan Vietnam Utara pada April 1975. Vietnam yang disatukan semula itu seterusnya mengalami penindasan dalaman dan kemudian dipinggirkan oleh komuniti antarabangsa kerana Perang Dingin yang berterusan dan serangan Vietnam terhadap Kemboja. Pada tahun 1986, Parti Komunis Vietnam mengubah dasar ekonominya lalu memulakan pembaharuan sektor swasta yang seiras dengan apa yang dilakukan di China. Sejak pertengahan 1980-an, Vietnam menikmat pertumbuhan ekonomi yang cukup besar dan sedikit pengurangan dalam penindasan politik, namun laporan mengenai korupsi turut menjadi-jadi.[2]

A.    Sistem Pemerintahan Di Vietnam
Presiden Vietnam adalah kepala negara dan secara nominal adalah panglima tertinggi militer Vietnam, menduduki Dewan Nasional untuk Pertahanan dan Keamanan (Council National Defense and Security). Peran presiden sebagai kepala negara tidak pernah lepas dari bantuan seorang kepala pemerintahan, yaitu Perdana Menteri. Perdana Menteri Vietnam adalah kepala pemerintahan mengepalai kabinet yang terdiri atas 3 deputi perdana menteri dan kepala 26 menteri-menteri dan perwira-perwira.[3]
Vietnam memiliki sebuah lembaga yang berperan sebagai perumus Undang-Undang pemerintah (Parlemen Unikameral). Lembaga tersebut bernama Majelis Nasional Vietnam (National Assembly of Vietnam). Lembaga ini memiliki kedudukan yang lebih tinggi dibandingkan dengan lembaga eksekutif dan yudikatif.[4]
Sebuah konstitusi baru disahkan pada April 1992 menggantikan versi 1975. Peran utama terdahulu partai Komunis disertakan kembali dalam semua organ-organ pemerintah, politik dan masyarakat. Hanya organisasi politik yang bekerjasama atau didukung oleh Partai Komunis diperbolehkan ikut dalam pemilihan umum. Ini meliputi Barisan Tanah Air Vietnam (Vietnamese Fatherland Front), partai serikat pedagang dan pekerja. Meskipun negara tetap secara resmi berjanji kepada sosialisme sebagai doktrinnya, makna ideologi tersebut telah berkurang secara besar sejak tahun 1990-an. [5]

B.     Sistem Parlemen Di Vietnam
Majelis Nasional Republic Sosialis Vietnam (National Assembly of Socialist Republic of Vietnam) adalah badan pembuat undang-undang pemerintah yang memegang hak legislatif, terdiri atas 498 anggota. Konstitusi Vietnam mengakui Majelis Nasional Vietnam sebagai lembaga tertinggi kekuasaan negara. Ia memiliki kekuatan untuk menyusun, mengadopsi, dan mengubah konstitusi dan untuk membuat dan mengubah undang-undang. Ia juga memiliki tanggung jawab untuk mengatur dan melaksanakan rencana negara dan anggaran. Majelis ini memiliki posisi yang lebih tinggi daripada lembaga eksekutif dan judikatif. Seluruh anggota kabinet berasal dari Majelis Nasional. Mahkamah Agung Rakyat (Supreme People's Court of Vietnam) memiliki kewenangan hukum tertinggi di Vietnam, juga bertanggung jawab kepada Majelis Nasional. Di bawah Mahkamah Agung Rakyat adalah Pengadilan Kotamadya Propinsi danPengadilan Daerah Vietnam. Pengadilan Militer Vietnam juga cabang adjudikatif yang kuat dengan kewenangan khusus dalam hal keamanan nasional. Semua organ-organ pemerintah Vietnam secara besar dikontrol oleh Partai Komunis. Mayoritas orang-orang yang ditunjuk pemerintah adalah anggota-anggota partai. Sekretaris Jendral Partai Komunis mungkin adalah salah satu pemimpin politik terpenting di Vietnam, mengontrol organisasi nasional partai dan perjanjian-perjanjian negara, juga mengatur undang-undang.[6]
Dalam menjalankaan Parlemennya yang disebut dengan Majelis Nasional Vietnam (National Assembly of the Socialist Republic of Vietnam) menggunakan sistem unikameral yang berarti satu kamar. Berarti tidak mengenal juga pemisahan antara DPR dan senat atau majelis tinggi dan majelis rendah. Pada umumnya sistem satu kamar ini diterapkan di negara-negara yang berukuran kecil, mereka rata-rata lebih menyukai untuk memilih satu kamar dari pada dua kamar, karena pertimbangan masalah keseimbangan kekuatan politik sangat kecil, dibanding kesulitan untuk memecahkan dalam suatu negara besar.[7]
            Sistem unikameral yang dianut oleh Vietnam membuat fungsi Majelis Nasional Vietnam dalam sistem unikameral itu terpusat pada satu badan legislatif tertinggi dalam struktur negara. Isi aturan mengenai fungsi dan tugas parlemen unikameral ini beragam dan bervariasi dari satu negara ke negara lain, tetapi pada pokoknya serupa bahwa secara kelembagaan fungsi legislatif tertinggi diletakkan sebagai tanggung jawab satu badan tertinggi yang dipilih oleh rakyat.[8]




[2] Ibid.
[4] Ibid.
[5] Ibid.
[6] http://indonesiancrew-neo.blogspot.com/2012/03/sistem-parlemen-di-vietnam.html
[7] Ibid.
[8] Ibid.