Oleh: Nur Rachmansyah
Pendahuluan
Vietnam
dalam sejarahnya berdiri sejak lebih 4,000 tahun. Namun begitu, sumber-sumber
boleh dipercayai yang ada menunjukkan bahawa sejarah Vietnam bermula sejak
2,700 tahun dahulu. Bagi kebanyakan zaman mulai 111 SM hingga abad ke-10,
Vietnam diperintah secara langsung oleh dinasti China yang berturut-turut.
Vietnam meraih kembali autonominya pada awal abad ke-10, diikuti kemerdekaan
sepenuhnya pada tahub 938 M. Sepanjang kebanyakan sejarahnya, Vietnam masih
menjadi negara ufti kepada jirannya yang lebih besar iaitu China, dan menolak
cubaan berulang oleh China untuk menyatukan semula Vietnam sebagai sebahagian
wilayah di bawah pemerintahan diraja secara langsung. Lebih-lebih lagi Vietnam
mampu menangkis tiga cubaan serang oleh orang Mongol ketika Dinasti Yuan,
apabila China diperintah Mongolia. Namun, raja pada masa itu, Trần Nhân Tông,
kemudiannya mengaku dirinya dengan aman sebagai pengufti kepada pemerintah Yuan
untuk mengelak konflik daripada berterusan. Zaman kedaulatan ini terhenti pada
pertengahan hingga akhir abad ke-19, aapbila negara dijajah oleh Perancis.
Ketika Perang Dunia II, Empayar Jepun mengusir pihak Perancis untuk menduduki
Vietnam, meskipun pada masa yang sama mengekalkan pentadbir Perancis ketika
pendudukannya. Setelah berakhirnya perang, Perancis cuba menguasai semula
Vietnam namun akhirnya gagal. Perjanjian Geneva membahagikan negara menjadi dua
dengan janji pilihanraya demokratik untuk menyatukan semula negara.[1]
Bagaimanapun, penyatuan
semula secara aman tidak menjadi kenyataan, sebaliknya pembahagian ini membawa
kepada Perang Vietnam yang, bergantung kepada perspektif individu, merupakan
sama ada perang saudara atau sebidang medan pertempuran dalam konflik ideologi
sedunia yang berterusan ketika itu, iaitu Perang Dingin. Ketika itu, Vietnam
Utara disokong oleh Republik Rakyat China dan Kesatuan Soviet, manakala Vietnam
Selatan disokong Amerika Syarikat. setelah berjuta-juta nyawa rakyat Vietnam
dan pengunduran pihak Amerika dari Vietnam pada bulan Mac 1973, perang berakhir
dengan kejatuhan Saigon ke tangan Vietnam Utara pada April 1975. Vietnam yang
disatukan semula itu seterusnya mengalami penindasan dalaman dan kemudian
dipinggirkan oleh komuniti antarabangsa kerana Perang Dingin yang berterusan
dan serangan Vietnam terhadap Kemboja. Pada tahun 1986, Parti Komunis Vietnam
mengubah dasar ekonominya lalu memulakan pembaharuan sektor swasta yang seiras
dengan apa yang dilakukan di China. Sejak pertengahan 1980-an, Vietnam menikmat
pertumbuhan ekonomi yang cukup besar dan sedikit pengurangan dalam penindasan
politik, namun laporan mengenai korupsi turut menjadi-jadi.[2]
A.
Sistem
Pemerintahan Di Vietnam
Presiden Vietnam adalah
kepala negara dan secara nominal adalah panglima tertinggi militer Vietnam,
menduduki Dewan Nasional untuk Pertahanan dan Keamanan (Council National Defense and Security). Peran presiden sebagai
kepala negara tidak pernah lepas dari bantuan seorang kepala pemerintahan,
yaitu Perdana Menteri. Perdana Menteri Vietnam adalah kepala pemerintahan
mengepalai kabinet yang terdiri atas 3 deputi perdana menteri dan kepala 26
menteri-menteri dan perwira-perwira.[3]
Vietnam
memiliki sebuah lembaga yang berperan sebagai perumus Undang-Undang pemerintah
(Parlemen Unikameral). Lembaga tersebut bernama Majelis Nasional Vietnam (National Assembly of Vietnam). Lembaga
ini memiliki kedudukan yang lebih tinggi dibandingkan dengan lembaga eksekutif
dan yudikatif.[4]
Sebuah konstitusi baru
disahkan pada April 1992 menggantikan versi 1975. Peran utama terdahulu partai
Komunis disertakan kembali dalam semua organ-organ pemerintah, politik dan
masyarakat. Hanya organisasi politik yang bekerjasama atau didukung oleh Partai
Komunis diperbolehkan ikut dalam pemilihan umum. Ini meliputi Barisan Tanah Air
Vietnam (Vietnamese Fatherland Front),
partai serikat pedagang dan pekerja. Meskipun negara tetap secara resmi
berjanji kepada sosialisme sebagai doktrinnya, makna ideologi tersebut telah
berkurang secara besar sejak tahun 1990-an. [5]
B.
Sistem
Parlemen Di Vietnam
Majelis Nasional
Republic Sosialis Vietnam (National
Assembly of Socialist Republic of Vietnam) adalah badan pembuat
undang-undang pemerintah yang memegang hak legislatif, terdiri atas 498
anggota. Konstitusi Vietnam mengakui Majelis Nasional Vietnam sebagai lembaga
tertinggi kekuasaan negara. Ia memiliki kekuatan untuk menyusun, mengadopsi,
dan mengubah konstitusi dan untuk membuat dan mengubah undang-undang. Ia juga
memiliki tanggung jawab untuk mengatur dan melaksanakan rencana negara dan
anggaran. Majelis ini memiliki posisi yang lebih tinggi daripada lembaga
eksekutif dan judikatif. Seluruh anggota kabinet berasal dari Majelis Nasional.
Mahkamah Agung Rakyat (Supreme People's
Court of Vietnam) memiliki kewenangan hukum tertinggi di Vietnam, juga
bertanggung jawab kepada Majelis Nasional. Di bawah Mahkamah Agung Rakyat
adalah Pengadilan Kotamadya Propinsi danPengadilan Daerah Vietnam. Pengadilan
Militer Vietnam juga cabang adjudikatif yang kuat dengan kewenangan khusus
dalam hal keamanan nasional. Semua organ-organ pemerintah Vietnam secara besar
dikontrol oleh Partai Komunis. Mayoritas orang-orang yang ditunjuk pemerintah
adalah anggota-anggota partai. Sekretaris Jendral Partai Komunis mungkin adalah
salah satu pemimpin politik terpenting di Vietnam, mengontrol organisasi
nasional partai dan perjanjian-perjanjian negara, juga mengatur undang-undang.[6]
Dalam
menjalankaan Parlemennya yang disebut dengan Majelis Nasional Vietnam (National Assembly of the Socialist Republic
of Vietnam) menggunakan sistem unikameral yang berarti satu kamar. Berarti
tidak mengenal juga pemisahan antara DPR dan senat atau majelis tinggi dan
majelis rendah. Pada umumnya sistem satu kamar ini diterapkan di negara-negara
yang berukuran kecil, mereka rata-rata lebih menyukai untuk memilih satu kamar
dari pada dua kamar, karena pertimbangan masalah keseimbangan kekuatan politik
sangat kecil, dibanding kesulitan untuk memecahkan dalam suatu negara besar.[7]
Sistem unikameral yang dianut oleh
Vietnam membuat fungsi Majelis Nasional Vietnam dalam sistem unikameral itu terpusat
pada satu badan legislatif tertinggi dalam struktur negara. Isi aturan mengenai
fungsi dan tugas parlemen unikameral ini beragam dan bervariasi dari satu
negara ke negara lain, tetapi pada pokoknya serupa bahwa secara kelembagaan
fungsi legislatif tertinggi diletakkan sebagai tanggung jawab satu badan
tertinggi yang dipilih oleh rakyat.[8]