Minggu, 02 Februari 2014

Warung Miskin (WM)

Oleh: Nur Rachmansyah

Warung miskin (WM) cukup menjadi pertanyaan bagi yang belum tau apa itu warung miskin. Karena saya sendiri pun beberapakali dintanyakan oleh teman-teman di kontak  Blackberry Messenger (BBM), ketika saya menulis, “@warung miskin” atau menulis “sedang makan di warung miskin” di Personal Message (PM) BBM. Yang menjadi pertanyaan pada umumnya, apa itu warung miskin? kenapa dimanakan sebagai warung miskin? Nah, di sini saya akan mencoba menceritakan sejarah mengapa warung tersebut dinamakan sebagai warung miskin, khususnya di kalangan kader HMI FH UII warung miskin sudah cukup familiar.
 Sekitar pada awal tahun 2011, saya lupa tepatnya tanggal dan bulan berapa, yang jelas ketika itu saya masih menjabat sebagai pengurus di HMI FH UII, yaitu sebagai kepala Unit (Kanit) Pengembangan Sumber Daya Kader (PSDK). Suatu ketika waktu itu saya berkunjung ke rumah kost teman sesama pengurus di HMI FH UII yaitu, Bangun dan Fuad. Kebetulan mereka berdua tinggal di tempat kost yang sama. Ketika saya datang, kami pun melakukan agenda seperti biasa, mengobrol dan berdiskusi tentang organisasi, kuliah, futsal dan berbagai macam hal lainnya.
Tidak lama setelah kami berkumpul dan berdiskusi, Fuad mengajak saya dan Bangun untuk makan. Saya pun menyetujui dan bertanya kembali kepada Fuad, “Mau makan di mana Ad?” Fuad kemudian mengatakan, “ayo kita makan di warung dekat sini aja, warungnya murah.” Akhirnya kami bertiga pun menuju warung murah yang dimaksudkan oleh Fuad sebelumnya tadi. Kami bertiga masing-masing mengambil makanan dan memesan minuman. Dan di antara kami, Fuad lah porsi makannya yang paling banyak. Sampai-sampai saya berkata kepadanya, “Rakus kali kau Ad”. Fuad kemudian menjawab, itu dikarenakan dia sangat lapar, sehingga makannya banyak. Padahal yang saya ketahui, porsi makannya Fuad memang selalu banyak. Hehe.
Selang beberapa hari setelah itu, saya kemudian mengajak seorang kader bernama Sultan Akbar (Akka) untuk makan siang di warung murah itu lagi. Setelah selesai makan kami membayar dan Akka terkaget ketika selesai membayar. Ternyata sangat murah, Akka makan, nasi, sayur dan menggunakan lauk ayam hanya bayar sebesar Rp. 4.000. Di sinilah kemudian Akka mempunyai inspirasi dengan memberi nama warung murah tersebut dengan nama “Warung Miskin” dan kemudian disingkat menjadi WM. Akka terinspirasi memberikan nama Warung Miskin atau disingkat WM itu karena harga makanan di warung tersebut sangat mudah dan terjangkau, bahkan untuk orang miskin sekalipun.
Nah, apabila ada yang menayakan siapakah pencetus dan pemberi nama “Warung Miskin” maka Akka ialah orangnya. Meskipun nama WM itu juga menimbulan kontroversi di kalangan kader HMI FH UII, karena sebagian berpendapat bahwa menyebut WM sebagai singkatan dari warung miskin adalah bagian dari penghinaan. Tetapi sebagian kader mengapologikan kalau WM juga merupakan singkatan dari Warung Murah.
Tetapi menurut saya, terserah sajalah WM itu ditafsirkan sebagai singkatan dari “Warung Miskin” ataupun “Warung Murah” karena yang jelas warung tersebut memang murah dan cocok untuk kalangan rakyat jelata. Saya sendiri sering sekali makan di WM, karena memang saya lebih merasa dimanusiakan ketika datang ke warung tersebut. Bandingkan saja apabila kita datang ke tempat makanan cepat saji seperti KFC, McDonal’s dan berbagai macam lainnya. Ketika datang ke sana, pasti yang dikatakan oleh karyawannya “Selamat datang, terimakasih” dan itu-itu saja hingga berkali-kali pun datang ke sana, sama saja yang akan dikatakan oleh karyawannya. Sama halnya seperti membandingkan berbelanja di pasar, dengan di Super Market atau Mini market. Apabila berbelanja ke pasar kita akan lebih dimanusiakan, karena di pasar ada proses interaksi antara pembeli dan penjual, baik dari sisi tawar-menawar atau pun interaksi lainnya. Berbeda dengan mini market, yang karyawannya sudah di setting seperti robot, yang hanya bisa berkata, “Selamat datang mas, Terimakasih mas? atau juga kadang menanyakan, “ada tambahan lagi mas?”. Tetapi apa mau dikata itulah cara kerja dari sistem kapitalis.
Kembali kepada WM tadi, selama saya menjabat sebagai Ketua Umum HMI FH UII (Imam Komisariat) bisa diibaratkan bahwa WM sudah menjadi sponsorship dalam banyak kegiatan yang dilaksanakan kepengurusan saya dan teman-teman pada saat itu. Bagaimana tidak, hampir setiap kegiatan mulai dari Latihan Kader 1 (Basic Training), seminar, diskusi, sampai berbagai macam training yang kami selenggarakan, kami memesan konsumsi di WM. Dan alhamdulillah sekali WM senantiasa memberikan potongan harga terhadap kami.
Di sini bukan maksud saya ingin mempromosikan WM, tapi pagi kader yang belum pernah datang ke WM, silahkan saja memcoba untuk datang. Tempatnya sangat sederhana dan terletak di Barat Masjid Bani Ismail. Atau apabila kesulitan mencari tempatnya, silahkan saja tanyakan pada pengurus Takmir Komisariat HMI FH UII. Karena, sebagaian besar pengurus takmir pasti mengetahui. Saya juga merekomendasikan untuk bertanya kepada saudara Fathurrahman (Fathur) tentang WM. Dikarenakan Fathur ialah salah satu pelanggan tetap di WM dan kemungkinan dibandingkan dengan kader-kader HMI FH UII lainnya, Fathur lebih sering datang ke WM .


                                                                                    Yogyakarta, 12 Juni 2013