Minggu, 02 Februari 2014

Obrolan Cinta di ‘Semesta’

Oleh: Nur Rachmansyah

Malam sudah menunjukkan pukul 01:15, aku baru saja datang di Semesta Cafe bersama Said. Maksud dan tujuan kami berdua datang ke Semesta Cafe adalah tidak lain dan tidak bukan untuk refresing sembari menenangkan pikiran serta menikmati malam. Aku memesan secangkir kopi ‘spesial semesta,’ dan Said memesan segelas ‘sunshine’ serta sepiring roti bakar untuk menemani obrolan malam kami berdua. Sebenarnya niat aku dan Said datang ke Semesta Cafe ialah untuk internetan menggunakan wi fi yang ada di Semesta Cafe. Tetapi sejak awal kami datang aku dan Said tidak kunjung juga berhasil menyalakan wifi di laptop kami.
Said sudah beberapakali mengumpat menyatakan kekecewaannya dengan cafe semesta. Beberapa kali aku juga bertanya kepada karyawan di cafe semesta, apa Password wifi cafe Semesta. Tetapi sungguh sangat mengecewakan, karena masih tidak bisa juga untuk dinyalakan. Aku pun menyeruput kopi yang sudah terhidang di meja berharap mengurangi kekecewaanku karena wifi yang tak kunjung juga bisa dinyalakan.
Obrolan kami pada malam itu bercerita tentang berbagai macam hal, mulai dari organisasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), kepanitiaan, serta juga termasuk urusan cinta. Yang sangat menarik perhatianku ialah ketika Said bercerita bagaimana pengalamannya dalam urusan cinta. Rupanya Said sudah jatuh bangun dalam urusan cinta, mulai dari pengalaman di tolak oleh cewek, di tinggalkan oleh cewek, bahkan sampai obsesinya karena menyukai cewek. Tapi yang sangat aku salutkan terhadap Said ialah kepercayaan dirinya apabila mendekati seorang cewek.   
Tak lama kemudian setelah obrolan kami, entah kenapa? mungkin karena kecewa atau bosan, ternyata Said mengajakku untuk pergi dari cafe Semesta. Tapi aku mengatakan kepada Said agar bisa lebih bersabar lagi, karena minuman dan makan kami, juga belum terhabiskan. Maka kemudian aku dan Said melanjutkan kembali obrolan kami yang menyangkut tentang dinamika Cinta.
Dari hasil obrolan kami ternyata pada intinya, Said sedang mengagumi seorang kader Akhwat. Aku tidak bisa mengatakan siapa kader akhwat tersebut karena bagian dari privasi Said dan kader akhwat itu. Tapi sebut saja kader akhwat tersebut menggunakan inisial ‘mawar.’ Penurut penuturan Said, ia sudah sejak lama mengagumi si mawar tersebut, tetapi puncak kekaguman Said, ketika bersama-sama menjadi panitia Training Jurnalistik. Sejak awal berkumpul kepanitiaan dan setiap rapat, Said diam-diam memperhatikan si mawar. Diam-diam Said sudah mengoleksi fhoto mawar di HP BlackBerry (BB) miliknya.
Mendengar curhat dari Said, maka aku hanya bisa mendoakan saja perjuangan Said untuk mendekati sang mawar tadi. Semoga Said tidak kecewa apabila pada akhirnya belum mendapatkan mawar sebagai kekasihnya. Dari tulisan ini bukan bermaksud membuka privasi seorang Said, tetapi tulisan ini sudah mendapatkan persetujuan Said sendiri. Tidak lain tulisan ini hanya semata-mata hiburan saja, kalau pun ada yang penasaran silahkan ditanyakan langsung dengan Said.  hahaha