Oleh: Nur Rachmansyah
Malam
sudah menunjukkan pukul 01:15, aku baru saja datang di Semesta Cafe bersama
Said. Maksud dan tujuan kami berdua datang ke Semesta Cafe adalah tidak lain
dan tidak bukan untuk refresing sembari menenangkan pikiran serta menikmati
malam. Aku memesan secangkir kopi ‘spesial semesta,’ dan Said memesan segelas
‘sunshine’ serta sepiring roti bakar untuk menemani obrolan malam kami berdua.
Sebenarnya niat aku dan Said datang ke Semesta Cafe ialah untuk internetan
menggunakan wi fi yang ada di Semesta Cafe. Tetapi sejak awal kami datang aku
dan Said tidak kunjung juga berhasil menyalakan wifi di laptop kami.
Said
sudah beberapakali mengumpat menyatakan kekecewaannya dengan cafe semesta.
Beberapa kali aku juga bertanya kepada karyawan di cafe semesta, apa Password wifi cafe Semesta. Tetapi
sungguh sangat mengecewakan, karena masih tidak bisa juga untuk dinyalakan. Aku
pun menyeruput kopi yang sudah terhidang di meja berharap mengurangi
kekecewaanku karena wifi yang tak kunjung juga bisa dinyalakan.
Obrolan
kami pada malam itu bercerita tentang berbagai macam hal, mulai dari organisasi
Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), kepanitiaan, serta juga termasuk urusan cinta.
Yang sangat menarik perhatianku ialah ketika Said bercerita bagaimana
pengalamannya dalam urusan cinta. Rupanya Said sudah jatuh bangun dalam urusan
cinta, mulai dari pengalaman di tolak oleh cewek, di tinggalkan oleh cewek,
bahkan sampai obsesinya karena menyukai cewek. Tapi yang sangat aku salutkan
terhadap Said ialah kepercayaan dirinya apabila mendekati seorang cewek.
Tak
lama kemudian setelah obrolan kami, entah kenapa? mungkin karena kecewa atau
bosan, ternyata Said mengajakku untuk pergi dari cafe Semesta. Tapi aku
mengatakan kepada Said agar bisa lebih bersabar lagi, karena minuman dan makan
kami, juga belum terhabiskan. Maka kemudian aku dan Said melanjutkan kembali
obrolan kami yang menyangkut tentang dinamika Cinta.
Dari
hasil obrolan kami ternyata pada intinya, Said sedang mengagumi seorang kader
Akhwat. Aku tidak bisa mengatakan siapa kader akhwat tersebut karena bagian
dari privasi Said dan kader akhwat itu. Tapi sebut saja kader akhwat tersebut
menggunakan inisial ‘mawar.’ Penurut penuturan Said, ia sudah sejak lama
mengagumi si mawar tersebut, tetapi
puncak kekaguman Said, ketika bersama-sama menjadi panitia Training
Jurnalistik. Sejak awal berkumpul kepanitiaan dan setiap rapat, Said diam-diam
memperhatikan si mawar. Diam-diam Said sudah mengoleksi fhoto mawar di HP
BlackBerry (BB) miliknya.
Mendengar
curhat dari Said, maka aku hanya bisa
mendoakan saja perjuangan Said untuk mendekati sang mawar tadi. Semoga Said
tidak kecewa apabila pada akhirnya belum mendapatkan mawar sebagai kekasihnya.
Dari tulisan ini bukan bermaksud membuka privasi seorang Said, tetapi tulisan
ini sudah mendapatkan persetujuan Said sendiri. Tidak lain tulisan ini hanya
semata-mata hiburan saja, kalau pun ada yang penasaran silahkan ditanyakan
langsung dengan Said. hahaha